Wamenaker Afriansyah Noor menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan industrialisasi harus diiringi peningkatan kompetensi, perluasan lapangan kerja berkualitas, serta perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja.
JAWA BARAT – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Republik Indonesia, Afriansyah Noor, menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan industrialisasi harus memberikan manfaat nyata bagi tenaga kerja, bukan justru meninggalkan pekerja di tengah perubahan dunia industri. Inovasi keinsinyuran dinilai perlu diarahkan untuk memperluas kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat perlindungan dan kesejahteraan pekerja.
Penegasan tersebut disampaikan Afriansyah dalam momentum penganugerahan gelar profesi insinyur tingkat regional, ASEAN Engineer (ASEAN Eng.), pada Konferensi ke-44 Federasi Organisasi Keinsinyuran Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations/CAFEO) di Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Afriansyah menilai perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, kemampuan tenaga kerja beradaptasi terhadap perubahan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Gelar ASEAN Eng. ini merupakan amanah strategis untuk menjembatani keunggulan teknologi dan ilmu keinsinyuran dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM) kita. Tujuannya jelas, yakni mencetak pekerja yang kompeten, produktif, adaptif terhadap perubahan zaman, dan senantiasa terlindungi,” ungkap Afriansyah, sebagaimana diwartakan Mimbarrakyat, Selasa (20/10/2026).
Menurut Afriansyah, kemajuan teknologi tidak cukup hanya diukur dari perkembangan inovasi dan kemampuan industri menghasilkan produk. Perkembangan tersebut juga harus memberikan dampak positif terhadap kualitas pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, penerapan teknologi keinsinyuran diharapkan mampu mendorong terciptanya lebih banyak lapangan kerja berkualitas sekaligus meningkatkan produktivitas industri nasional.
Selain memperluas kesempatan kerja, Afriansyah menekankan pentingnya penguatan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam menghadapi perubahan teknologi. Perlindungan tenaga kerja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan daya saing industri.
Ia juga memandang kolaborasi antarnegara di kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN) sebagai salah satu langkah untuk memperkuat pengembangan kompetensi keinsinyuran dan meningkatkan kualitas SDM.
Dalam kesempatan tersebut, Afriansyah menerima pengakuan profesi ASEAN Engineer pada ajang CAFEO ke-44 yang mempertemukan komunitas keinsinyuran dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
Penganugerahan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian profesional, tetapi juga sebagai momentum untuk memperluas kontribusi keinsinyuran dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan dan perkembangan industri.
“ASEAN Eng. bukan sekadar pengakuan atas kompetensi profesional secara individu. Lebih dari itu, ini adalah momentum bagi kita untuk memperluas ruang pengabdian, memperkuat kolaborasi regional antarnegara, dan memastikan bahwa setiap lompatan kemajuan keinsinyuran mampu memberikan manfaat yang nyata bagi para pekerja, keberlangsungan industri, dan masyarakat luas,” pungkasnya.
Afriansyah berharap kemajuan ilmu keinsinyuran dan kerja sama regional dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pembangunan SDM Indonesia. Dengan demikian, perkembangan teknologi dan industrialisasi diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing ekonomi, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, produktif, dan memberikan kesejahteraan secara lebih merata. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan