Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan berencana menerbitkan visa bagi Flavio Bolsonaro dan keluarganya ketika kandidat presiden Brasil itu menghadapi penyelidikan dugaan pencucian uang, sebuah langkah yang berpotensi memicu ketegangan diplomatik dengan pemerintahan Lula.
WASHINGTON – Rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) menerbitkan visa bagi Flavio Bolsonaro dan keluarganya memunculkan potensi ketegangan diplomatik dengan Brasil. Langkah tersebut mencuat ketika Flavio tengah menghadapi penyelidikan dugaan pencucian uang di negaranya, sehari setelah kepolisian Brasil memintanya menyerahkan paspor.
Tiga pejabat AS menyebut Flavio telah berangkat menuju AS pada Selasa (27/10/2026). “Flavio Bolsonaro bertolak ke Amerika Serikat pada Selasa 27 Oktober 2026,” demikian keterangan yang dikutip The New York Times, sebagaimana diberitakan media tersebut, Rabu, (28/10/2026).
Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri AS mengatakan pihaknya berencana menerbitkan visa bagi Flavio dan keluarganya. Para pejabat yang menyampaikan informasi itu meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas persoalan diplomatik yang sensitif.
Rencana pemberian visa tersebut berpotensi memperkeruh hubungan pemerintahan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva. Sebelumnya, Lula menuduh Trump mencampuri urusan dalam negeri Brasil.
Berdasarkan dokumen pengadilan yang ditinjau The New York Times, Flavio sedang diselidiki terkait hubungannya dengan seorang pengacara Brasil yang dituduh terlibat pencucian uang lebih dari 1 miliar dolar Amerika Serikat melalui skema yang melibatkan perjudian daring dan perdagangan.
Dalam penyelidikan terpisah, Flavio juga dikaitkan dengan dana jutaan dolar yang diterimanya dari seorang bankir yang terlibat dalam skandal korupsi besar. Dana tersebut disebut digunakan untuk membiayai film biopik tentang ayahnya, Jair Bolsonaro.
Jair sebelumnya dinyatakan bersalah karena berupaya melakukan kudeta setelah kalah dalam pemilihan presiden Brasil 2022 dari Lula.
Meski menghadapi penyelidikan, Flavio belum didakwa melakukan tindak pidana. Ia membantah melakukan kesalahan dan menyebut penyelidikan terhadap dirinya sebagai bentuk persekusi politik.
Persoalan ini muncul setelah Lula kembali memenangkan pemilihan presiden Brasil dengan mengalahkan Flavio pada putaran kedua, menurut laporan tersebut. Kemenangan Lula disebut menghentikan tren kemenangan kelompok sayap kanan dalam tujuh pemilihan presiden di Amerika Latin dan menjadi pukulan politik bagi Trump, yang kerap berselisih dengan pemimpin Brasil itu.
Perkembangan kasus Flavio juga berpotensi memiliki konsekuensi hukum setelah masa jabatannya sebagai senator berakhir pada Februari 2027. Ia diperkirakan kehilangan kekebalan parlementer karena tidak terpilih sebagai presiden, sehingga dapat menghadapi proses hukum terkait penyelidikan yang berjalan.
Rencana penerbitan visa oleh pemerintah AS dan perkembangan penyelidikan di Brasil kini menjadi dua persoalan yang saling bersinggungan. Selain menentukan perjalanan Flavio ke luar negeri, keputusan tersebut berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik kedua negara di tengah perbedaan politik antara pemerintahan Trump dan Lula. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan