Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran di tengah ancaman serangan baru Amerika Serikat dan kekhawatiran atas serangan Houthi terhadap Riyadh.
TEHERAN – Kunjungan pejabat tinggi Arab Saudi, Pakistan, dan Turki ke Teheran, Iran, menjadi upaya diplomatik untuk membahas keamanan kawasan ketika risiko serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kembali mencuat. Pertemuan pada Senin (26/10/2026) itu juga berlangsung di tengah kekhawatiran atas serangan kelompok Houthi dari Yaman terhadap Arab Saudi.
Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman Al Saud, kepala militer Pakistan Asim Munir, dan kepala intelijen Turki Ibrahim Kalin bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Meski agenda resmi pembicaraan belum diungkapkan, sejumlah pengamat menilai pertemuan tersebut berkaitan dengan upaya mengendalikan ketegangan keamanan di Timur Tengah.
Wakil Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai kunjungan negara-negara yang disebut sebagai bagian dari Pakta Mekkah itu berpotensi mengubah dinamika diplomasi regional. Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (27/10/2026), Vaez mengatakan, “Kunjungan negara-negara Pakta Mekkah ke Teheran selama 11 jam adalah upaya untuk menggeser keseimbangan agar lebih memihak kepada mereka yang bersedia berkompromi,”
Namun, Vaez mengingatkan bahwa kunjungan tersebut belum tentu menghasilkan kesepakatan konkret jika tidak disertai langkah untuk mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran.
“Namun, kecuali mereka membawa formula yang kredibel untuk menjembatani kesenjangan antara AS dan Iran, mereka mungkin hanya akan mendapatkan niat baik semata dalam perlombaan melawan waktu ini,” tambahnya.
Ancaman serangan baru AS menjadi salah satu latar penting di balik pertemuan tersebut. Sebelumnya, muncul laporan bahwa Washington mempertimbangkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu (midterm elections), dengan menggunakan Mother of All Bombs, bom konvensional nonnuklir berdaya ledak sangat besar. Salah satu lokasi yang disebut-sebut berpotensi menjadi sasaran adalah Gunung Pickaxe.
Di sisi lain, keamanan Arab Saudi juga menjadi perhatian. Negara itu menghadapi serangan kelompok Houthi yang beroperasi dari Yaman. Dalam draf laporan tersebut, serangan selama beberapa bulan terakhir disebut menimbulkan korban jiwa, termasuk warga asing dan jemaah umrah, setelah sejumlah bandara internasional di Riyadh menjadi sasaran.
Peneliti senior di Departemen Studi Perang King’s College London, Ayesha Siddiqa, menilai Riyadh memiliki keterbatasan pilihan untuk menghadapi Houthi melalui jalur militer. Karena itu, diplomasi dengan Iran diperkirakan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan tekanan terhadap kelompok tersebut.
“Saya percaya bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian Mekkah kekurangan pilihan untuk terlibat secara militer dengan Houthi. Tapi, tentu saja Riyadh hendak memberi tekanan yang lebih besar,” ucap Siddiqa.
Peneliti kebijakan luar negeri Arab Saudi, Umer Karim, juga menilai pembicaraan tersebut kemungkinan lebih berfokus pada kepentingan keamanan Riyadh, dengan Turki dan Pakistan berperan mendorong Iran agar bersedia berkompromi.
“Pembicaraan ini mungkin lebih berkaitan dengan keamanan Arab Saudi dan melibatkan upaya Turki dan Pakistan untuk memaksa Iran mencapai kompromi,” kata Karim.
Sementara itu, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil, menilai Iran memiliki alasan untuk menghindari konflik terbuka yang lebih luas. Menurutnya, masih terdapat peluang untuk mencapai kesepahaman terbatas, terutama terkait Yaman, meski pengaruh Teheran terhadap Houthi tidak sepenuhnya menentukan keputusan kelompok tersebut.
“Iran memiliki insentif kuat untuk menghindari konfrontasi besar lainnya, dan mungkin ada ruang untuk pemahaman terbatas, khususnya mengenai Yaman,” kata Vakil.
“Namun, Houthi memiliki perhitungan mereka sendiri, dan pengaruh Iran atas mereka tidak mutlak. Mencegah serangan baru AS-Israel akan jauh lebih sulit karena perbedaan mendasar antara Teheran dan Washington tetap belum terselesaikan,” lanjutnya.
Dengan demikian, pertemuan para pejabat tinggi tersebut membuka ruang komunikasi di tengah meningkatnya ketegangan, tetapi belum menjamin meredanya konflik. Keberhasilan diplomasi akan bergantung pada kemampuan para pihak menghasilkan kompromi yang dapat mengurangi risiko konfrontasi AS-Iran sekaligus menekan ancaman serangan Houthi terhadap Arab Saudi. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan