Credit Mutuel Arkea menyelidiki dugaan pencurian dana korporasi hingga Rp2 triliun, sementara pihak bank memastikan aset nasabah tidak terdampak.
PARIS – Serangan siber yang menargetkan Bank Prancis Credit Mutuel Arkea diduga menyebabkan kerugian hingga 133 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2 triliun. Meski demikian, bank memastikan dana milik nasabah tidak terdampak karena uang yang menjadi sasaran pencurian merupakan aset korporasi.
Dalam pernyataan pada Rabu (04/11/2026), Credit Mutuel Arkea menyebut insiden tersebut hanya mengakibatkan keterlambatan pemrosesan sejumlah transfer. Pihak bank juga menyatakan serangan telah ditangani dan otoritas terkait langsung diberi tahu setelah kejadian terdeteksi.
“Insiden ini tidak berdampak pada aset (nasabah) dan hanya menyebabkan keterlambatan dalam pelaksanaan transfer tertentu,” demikian pernyataan bank, sebagaimana dikutip Reuters dan diberitakan CNN Indonesia, Kamis (05/11/2026).
Besaran kerugian masih dalam proses penghitungan. Bank tidak mengonfirmasi angka 133 juta dolar AS yang beredar, tetapi menyatakan nilai kerugian lebih kecil dari perkiraan yang ramai diberitakan. Pihaknya juga menegaskan insiden tersebut tidak mengancam kondisi keuangan perusahaan.
“Tim kami terus berupaya untuk menilai secara tepat konsekuensi finansial dari serangan ini. Masih terlalu dini untuk memberikan angka pasti,” kata juru bicara bank.
Sebelumnya, investigator blockchain ZachXBT melaporkan bahwa peretas diduga mencuri dana lebih dari Rp2 triliun dari bank tersebut. Sebagian dana disebut telah dipindahkan melalui platform mata uang kripto dan dikonversi menjadi stablecoin. Aksi tersebut diperkirakan berlangsung selama beberapa hari.
Namun, Credit Mutuel Arkea belum memastikan apakah dana yang dicuri berbentuk mata uang kripto. Bank juga belum mengungkapkan secara terperinci metode yang digunakan pelaku dalam menjalankan serangan tersebut.
Insiden ini menambah daftar serangan siber yang menyasar sektor keuangan dan infrastruktur penting di Eropa. Sebelumnya, bursa mata uang kripto Binance dilaporkan kehilangan aset senilai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp114 triliun akibat serangan peretasan.
Selain sektor keuangan, serangan siber juga dilaporkan menyasar fasilitas penyimpanan produk darah di Prancis. Tiga bank darah regional menjadi target, dengan lemari pendingin penyimpan produk darah ikut terdampak.
Credit Mutuel Arkea merupakan salah satu kelompok keuangan besar di Prancis dengan sekitar 5,8 juta nasabah dan aset senilai 211,5 miliar euro. Meski demikian, bank tersebut menegaskan bahwa pencurian dana korporasi tidak memengaruhi aset nasabah maupun stabilitas keuangan grup.
Penanganan insiden dan penghitungan kerugian masih menjadi perhatian, sementara penyelidikan diharapkan dapat mengungkap jalur perpindahan dana serta pihak yang bertanggung jawab. Kasus ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan sistem digital, terutama bagi lembaga keuangan yang mengelola dana dan transaksi dalam skala besar. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan