Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Urusan Ekonomi Bavaria tersebut ditemukan meninggal di Hotel Neuer Fritz, Berlin, setelah membatalkan agenda pembukaan kantor baru Partai Free Voters karena merasa tidak sehat.
BERLIN – Karier politik Hubert Aiwanger, salah satu tokoh penting pemerintahan Bavaria, Jerman, berakhir mendadak setelah ia ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar hotel di Berlin, Rabu (04/11/2026). Kematiannya terjadi ketika politikus berusia 55 tahun tersebut dijadwalkan menghadiri pembukaan kantor baru Partai Free Voters, organisasi politik yang telah dipimpinnya selama bertahun-tahun.
Aiwanger yang menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Urusan Ekonomi Bavaria ditemukan tidak bernyawa di Hotel Neuer Fritz, Berlin. Hingga berita ini dilansir, penyebab kematiannya belum diketahui. Informasi tersebut sebagaimana diberitakan Sindonews, Kamis, (05/11/2026).
Sebelum ditemukan meninggal dunia, Aiwanger dilaporkan membatalkan kehadirannya dalam acara pembukaan kantor baru partainya karena merasa tidak sehat. Ia kemudian tetap berada di hotel. Setelah tidak dapat dihubungi, keberadaannya diperiksa hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Laporan Tagesspiegel menyebutkan, polisi tidak menemukan indikasi tindak pidana maupun keterlibatan pihak lain dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, penyebab pasti kematiannya belum diungkapkan.
Kepergian Aiwanger meninggalkan kekosongan bagi Partai Free Voters, terutama karena ia merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam perkembangan organisasi tersebut. Ia memimpin cabang partai di Bavaria sejak 2006 dan dipercaya memimpin organisasi nasional sejak 2010.
Pengaruh politiknya semakin kuat setelah Partai Free Voters membentuk koalisi pemerintahan bersama Partai Uni Sosial Kristen (CSU) pada 2018. Koalisi tersebut terbentuk di bawah kepemimpinan Markus Söder dan mengantarkan Aiwanger menduduki jabatan Wakil Perdana Menteri serta Menteri Urusan Ekonomi Bavaria.
Di luar pemerintahan, Aiwanger dikenal sebagai politikus konservatif yang vokal mengkritik sejumlah kebijakan Uni Eropa (UE), khususnya regulasi ekonomi dan kebijakan energi. Ia juga beberapa kali menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah di Berlin dan Brussels yang dinilainya dapat merugikan kepentingan ekonomi.
Pada 2019, Aiwanger mengunjungi Rusia untuk mendorong kerja sama ekonomi. Dalam kesempatan tersebut, ia menentang penerapan sanksi yang menurut pandangannya dapat merusak hubungan bisnis.
Sikap politiknya juga terlihat dalam isu imigrasi. Aiwanger mendukung pengawasan perbatasan yang lebih ketat dan kebijakan deportasi yang lebih tegas terhadap imigran. Menjelang akhir hidupnya, ia turut mengkritik situasi keamanan di sejumlah wilayah Eropa Barat. Ia mengaitkan kerusuhan dengan persoalan integrasi komunitas migran dan aktivitas kelompok ekstremis sayap kiri.
Pada 31 Oktober 2026, Aiwanger bahkan mengecam kondisi keamanan Berlin setelah sejumlah pemilik toko memasang papan pelindung pada jendela tempat usaha mereka karena khawatir terjadi kerusuhan dan penjarahan. Ia menyerukan pemberian hukuman lebih berat terhadap para pelaku pelanggaran.
Perjalanan politik Aiwanger juga tidak terlepas dari kontroversi. Selama pandemi penyakit koronavirus 2019 (Covid-19), ia mendapat kritik karena menolak vaksinasi dan berpendapat bahwa keputusan untuk menerima vaksin harus menjadi pilihan pribadi setiap individu.
Kontroversi lainnya muncul pada 2023, ketika media kembali mengangkat persoalan selebaran antisemit yang ditulis kakak laki-lakinya saat mereka masih bersekolah pada dekade 1980-an. Persoalan tersebut memicu desakan dari pihak oposisi agar Aiwanger diberhentikan dari jabatannya. Namun, Markus Söder tetap mempertahankannya dalam pemerintahan.
Di tengah berbagai kontroversi tersebut, Partai Free Voters justru mencatatkan peningkatan dukungan dalam pemilihan regional Bavaria pada 2023. Partai itu memperoleh 15,8 persen suara, naik dari 11,6 persen pada pemilihan 2018. Jumlah kursi mereka di parlemen negara bagian juga bertambah dari 27 menjadi 37 kursi.
Namun, keberhasilan di tingkat regional tidak berlanjut pada pemilihan nasional 2025. Partai Free Voters hanya memperoleh 1,5 persen suara sehingga gagal menembus Bundestag atau Parlemen Federal Jerman.
Aiwanger meninggalkan pasangan hidupnya, Tanja Schweiger, yang juga merupakan politikus, serta dua putra mereka. Kepergiannya tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga mengakhiri perjalanan seorang tokoh yang selama bertahun-tahun memiliki pengaruh dalam politik regional Bavaria dan perkembangan Partai Free Voters. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan