BALI – Ogoh-ogoh, tradisi unik yang menjadi daya tarik wisata budaya Bali, bukan hanya menampilkan kemegahan seni rupa, tetapi juga mengandung nilai spiritual yang mendalam. Menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Nyepi, ogoh-ogoh selalu menarik perhatian baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Patung raksasa yang dihias megah ini menggambarkan Bhuta Kala, simbol kekuatan negatif yang dikelilingi oleh berbagai filosofi dan kepercayaan masyarakat Bali.
Dr. Komang Indra Wirawan SSn MFil H, akademisi dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, menjelaskan bahwa tradisi ogoh-ogoh telah ada sejak lama dan menjadi bagian penting dari perayaan Nyepi. Menurutnya, istilah “ogoh-ogoh” berasal dari bahasa Bali, yang berarti “digoyang-goyang” atau “digerakkan”, karena patung tersebut diarak keliling desa saat prosesi Pengerupukan, sehari sebelum Nyepi. Sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1983 di Desa Kesiman, ogoh-ogoh terus berkembang pesat dan kini menjadi bagian dari Tawur Kesanga, upacara penyucian alam yang dilaksanakan menjelang Nyepi.
Pada tahun 1990, tradisi ini semakin meluas setelah dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XII. Kini, ogoh-ogoh tidak hanya menjadi upacara keagamaan, tetapi juga ajang ekspresi seni, kreativitas, dan kompetisi bagi masyarakat Bali. Untuk memastikan kualitas ogoh-ogoh yang dipamerkan, berbagai pihak, termasuk pemerintah, desa adat, dan pemuda, sering mengadakan perlombaan.
Perlombaan ogoh-ogoh menilai empat aspek utama yang sangat menentukan kualitasnya. Aspek pertama adalah ideoplastis, yang menilai makna filosofis dan tematik dari ogoh-ogoh. Konsep yang diangkat seringkali terinspirasi dari mitologi Hindu seperti kisah Ramayana atau Mahabharata, dengan tujuan menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat Bali. Aspek kedua, psikoplastis, menilai bentuk dan struktur fisik ogoh-ogoh, dari proporsi ukuran hingga ekspresi wajah yang sesuai dengan karakter yang digambarkan. Aspek ketiga, kreativitas, menilai seberapa inovatif ogoh-ogoh tersebut, baik dari segi konsep, teknik pembuatan, maupun penggunaan ornamen pendukung. Terakhir, aspek seni rupa pertunjukan menilai bagaimana ogoh-ogoh mampu berfungsi sebagai elemen pertunjukan yang dinamis, interaktif, dan terintegrasi dengan musik tradisional Bali.
Namun, di tengah pesona seni ogoh-ogoh, tradisi ini tidak lepas dari tantangan. Sejak tahun 2005, ada anggapan bahwa ogoh-ogoh seringkali disalahpahami dan digunakan untuk kepentingan politik, khususnya dalam masa pemilu. Kritikan juga datang terkait dampak lalu lintas yang ditimbulkan saat arak-arakan ogoh-ogoh. Meskipun demikian, Komang Gases menegaskan bahwa ogoh-ogoh tetap memiliki nilai sosial yang besar, yakni dapat mempersatukan masyarakat dan mempererat hubungan antarwarga.
Secara historis, sebelum ogoh-ogoh populer, masyarakat Bali sudah melakukan Meubu-ubu sebagai ritual pembersihan sebelum Catur Brata Penyepian. Meskipun ogoh-ogoh bukan bagian dari ritual utama, kehadirannya semakin memperkaya budaya Bali dengan ekspresi seni yang menarik. Bagi Komang Gases, ogoh-ogoh adalah simbol kreativitas yang menggambarkan konsep Bhuta Kala, sekaligus menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda.
“Ogoh-ogoh bukan sekadar arak-arakan, tetapi juga karya seni massal yang merepresentasikan kreativitas masyarakat Bali. Tanpa ogoh-ogoh, Nyepi tetap berjalan, namun seni ini telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Bali yang terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Komang Gases, menutup pembicaraannya.
Melalui tradisi ini, masyarakat Bali tidak hanya merayakan Nyepi, tetapi juga mengekspresikan rasa bakti kepada Sang Pencipta melalui seni dan kreativitas. Ogoh-ogoh menjadi simbol kebahagiaan yang membuktikan bahwa seni adalah bagian integral dari kehidupan budaya Bali. []
Redaksi03