Ukraina Evakuasi 167 Warga Kherson, Gencatan Senjata Segera Berakhir

Ukraina memindahkan 167 warga sipil dari wilayah selatan Kherson, termasuk anak-anak dan warga berkebutuhan bantuan khusus, menjelang berakhirnya gencatan senjata lokal di Oleshky.

KHERSON – Sebanyak 167 warga sipil, termasuk 22 anak-anak dan 21 orang dengan keterbatasan mobilitas, dievakuasi dari sejumlah wilayah di bagian selatan Kherson, Ukraina, pada Minggu (01/11/2026). Evakuasi dilakukan menjelang berakhirnya gencatan senjata lokal di Kota Oleshky dan sekitarnya yang telah memberi kesempatan bagi warga untuk keluar dari wilayah konflik serta menerima bantuan kemanusiaan.

Staf Umum Ukraina menyatakan, pemindahan warga dilakukan oleh unit kerja sama sipil-militer dari kelompok pasukan Selatan bersama perwakilan pemerintah daerah. Para warga dibawa menuju lokasi yang dinilai lebih aman, terutama mereka yang membutuhkan perlindungan dan bantuan khusus.

Evakuasi tersebut berlangsung ketika kesepakatan penghentian pertempuran lokal selama enam hari di Oleshky dan wilayah sekitarnya mendekati batas waktu. Gencatan senjata yang dimediasi Ibu Negara Amerika Serikat (AS) Melania Trump dengan keterlibatan Paus Leo itu dijadwalkan berakhir pada tengah malam waktu Moskow.

Gubernur Kherson Oleksandr Prokudin mengingatkan masyarakat agar tidak kembali atau mendatangi kawasan berbahaya di sekitar Sungai Dnipro. Ia menilai wilayah tersebut masih menghadapi ancaman serangan yang tinggi.

“Saya juga sangat mengimbau Anda untuk tidak mengunjungi apa yang disebut ‘zona merah’ – wilayah dan permukiman di dekat Sungai Dnipro. Intensitas serangan Rusia di sana masih tinggi, dan ancaman terhadap nyawa juga sangat besar,” tulis Prokudin melalui Telegram, sebagaimana dilansir Channel News Asia, Senin, (02/11/2026).

Di tengah proses evakuasi, sejumlah warga Oleshky sebelumnya juga berhasil mencapai wilayah Ukraina setelah mengalami kelaparan dan kelelahan selama berada di kota yang berdekatan dengan garis depan pertempuran.

Perjalanan mereka berlangsung melalui beberapa wilayah. Warga terlebih dahulu diangkut menggunakan bus melewati Krimea, wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2014, menuju Kota Anapa di Rusia. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan dengan pesawat ke Belarus sebelum akhirnya menuju Ukraina.

Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) Rusia Yana Lantratova mengatakan, warga yang hendak meninggalkan Oleshky, baik menuju Rusia maupun Ukraina, pada awalnya diangkut menggunakan 25 bus dan sembilan ambulans menuju Krimea. Setelah itu, mereka dipisahkan ke dalam konvoi berbeda untuk melanjutkan perjalanan.

Hingga kini, belum diketahui jumlah warga yang memilih tetap tinggal di Oleshky, yang berada di bawah kendali Rusia. Kota tersebut terletak di tepi Sungai Dnipro, berseberangan dengan Kota Kherson yang dikuasai Ukraina.

Selama gencatan senjata berlangsung, pejabat Ukraina dan Rusia menyatakan tidak terjadi pelanggaran sejak Selasa. Jeda pertempuran itu dimanfaatkan untuk membersihkan ranjau di jalan serta menyalurkan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan lainnya ke Oleshky.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan penilaian positif Rusia terhadap pelaksanaan operasi di Oleshky. Ia juga mengapresiasi koordinasi kedua negara melalui komisioner HAM masing-masing.

Paus Leo berharap kerja sama dalam pelaksanaan gencatan senjata tersebut dapat menjadi awal bagi upaya perdamaian yang lebih luas. Sementara itu, Melania Trump menilai kesepakatan tersebut memberi kesempatan kepada warga untuk bergerak lebih bebas serta memperoleh makanan, air bersih, dan obat-obatan tanpa terus-menerus dibayangi ancaman serangan.

Oleshky telah dikuasai pasukan Rusia tidak lama setelah invasi ke Ukraina dimulai pada Februari 2022. Pada tahun yang sama, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah Kherson, termasuk Kota Kherson. Namun, pertempuran masih berlangsung di wilayah lain.

Pada Minggu, pemerintah daerah dan layanan darurat Ukraina melaporkan sedikitnya satu orang tewas akibat serangan di wilayah Sumy, dekat perbatasan Rusia, serta sedikitnya satu korban jiwa di wilayah Vinnytsia, Ukraina bagian tengah.

Berakhirnya gencatan senjata lokal menjadi tantangan bagi keselamatan warga yang masih berada di kawasan konflik. Karena itu, kelanjutan akses evakuasi dan penyaluran bantuan kemanusiaan menjadi hal penting untuk mengurangi risiko korban sipil di tengah perang yang belum berakhir. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *