Unmul Teken MoU Pemagangan Penggemukan Sapi Dengan Maggot

Sebanyak 12 mahasiswa dan 26 dosen Unmul mengikuti program pemagangan di PT BSJ.

 

SAMARINDA – Universitas Mulawarman (Unmul) menekan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dengan PT Berkah Salama Jaya (BSJ) berkenaan dengan Program Matching Fund dan pemagangan untuk proyek percontohan penggemukan sapi dengan budidaya maggot.

Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan di Lantai 3 Gedung Unmul HUB, Jumat (16/09/2022) , melibatkan Dekan dan Perwakilan Dekan Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta dari pihak PT BSJ.

Selain penandatanganan MoU, acara tersebut juga dirangkai dengan pelepasan mahasiswa magang. Tercatat sebanyak 12 mahasiswa dan 26 dosen yang mengikuti program pemagangan yang berlangsung dari Bulan September hingga Oktober 2022 mendatang.

Dalam sambutannya, Suparlan, Direktur PT BSJ mengungkapkan, metode penggemukan sapi dengan kombinasi budidaya maggot atau larva dari jenis lalat black soldier fly, merupakan metode penggemukan sapi dengan memanfaatkan simbiosis mutualisme antara sapi dan maggot. Kotoran sapi jadi pakan untuk maggot dan maggot jadi campuran pakan sapi.

“Hal inilah yang membuat berat badan sapi bertambah cepat,” ungkap Suparlan saat memberikan sambutan dalam acara penandatanganan MoU itu.

Dengan metode itu, lanjut dia, sapi yang digemukkan akan cepat dapat dipanen dan dapat cepat menghasilkan keuntungan.

“Program penggemukan sapi  ini membuat sapi bisa dipanen dalam tiga bulan. Program ini lahir dari kendala pola peternakan tradisional.  Program ini dapat memberikan kenaikan berat sebanyak 0,8 sampai dengan 0,9 per hari pada sapi,” papar Suparlan.

Pihak Unmul dan PT BSJ menandatangani nota kesepahaman proyek percontohan penggemukan sapi dengan budidaya maggot. Insert: Dari kiri ke kanan, Anton Rahmadi, Suparlan, dan M. Aswin.

 

Ia berharap, program percontohan itu dapat menjadikan peternak sapi sebagai pekerjaan tetap bukan sampingan sehingga mampu meningkatkan pendapatan ekonomi peternak.

Sementara Wakil Rektor Unmul, Anton Rahmadi, yang juga Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unmul mengemukakan, pendidikan itu tidak boleh jadi menara gading yang kejar kejaran, tetapi melibatkan masyarakat.

“Maka dibentuk Program Matching Fund, agar mahasiswa memiliki keterampilan teknis.  Unmul menjadi koordinasi untuk Kaltim dan Kaltara (Kalimantan Utara, red). Program ini mencakup bagaimana menyediakan bahan baku untuk penggemukan sapi. Makanan berupa konsentrat protein yang di kembangkan dari kotoran sapi itu sendiri,” paparnya.

Adapun keterlibatan banyak fakultas dalam program pemagangan, Anton Rahmadi menyebut, agar kerja sama pemagangan dapat dibangun berdasarkan bidangnya, misalnya Fakultas Kesehatan Masyarakat bertugas meningkatkan kualitas manusianya.

Sementara Asisten II Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltim, M. Aswin, hadir mewakili Gubernur dalam rangka memberikan sambutan sekaligus melepas program pemagangan mahasiswa.

“Perguruan tinggi perlu bekerja sama dengan industri.  Kami berharap perguruan tinggi dapat menjadi relevan untuk memenuhi kebutuhan,” ujar Aswin.

Terkait pemagangan mahasiswa di PT BSJ, ia berharap dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain untuk melaksanakan program semula. Ia mengimbau agar semua pihak dapat bekerja sama untuk kemajuan Kaltim

“Saya menyambut baik dan mengucapkan selamat atas penandatanganan nota kesepahaman dan pelepasan mahasiswa magang ini,” ujar Aswin. []

Reporter: Ifka Nasrifah
Editor: Hadi Purnomo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.