Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Iran dapat memperluas konflik regional dan menegaskan bahwa intervensi militer bukan solusi.
ANKARA – Turki memperingatkan bahwa serangan militer baru terhadap Iran berisiko memperluas konflik ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menilai intervensi militer bukan jalan keluar dari ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Peringatan tersebut disampaikan Fidan kepada wartawan setelah menghadiri pertemuan R4+E3 di Istanbul. Forum itu mempertemukan negara-negara yang terlibat dalam upaya diplomasi regional dan pembahasan isu strategis, termasuk ketegangan terkait Iran.
“Intervensi militer di Iran sama sekali bukan sebuah solusi. Saat ini, tidak ada pihak yang mendukung langkah tersebut,” ujar Hakan Fidan, sebagaimana diberitakan Sindo News, Sabtu, (24/10/2026).
Kekhawatiran terhadap eskalasi meningkat setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel menyusun rencana untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Namun, laporan mengenai rencana tersebut dalam bahan sumber tidak disertai keterangan lebih lanjut mengenai waktu maupun bentuk operasi yang dimaksud.
Konflik yang pecah pada akhir Februari itu disebut belum sepenuhnya terselesaikan meskipun telah ada gencatan senjata dan nota kesepahaman untuk merampungkan kesepakatan damai. Situasi tersebut membuat jalur diplomasi menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah konflik kembali meluas.
Selain membahas ketegangan Iran, Fidan menyoroti perang Rusia-Ukraina. Ia menilai konflik tersebut perlu segera diakhiri atau setidaknya diikuti kesepakatan yang memberikan pengecualian terhadap persoalan energi dan biji-bijian.
“Perang ini harus diakhiri, atau jika tidak, pihak-pihak yang terlibat harus menyepakati pengecualian terkait isu energi dan biji-bijian.”
Pembahasan regional tersebut dilakukan melalui dua mekanisme diplomatik. Mekanisme R4 melibatkan Turki, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi dengan prinsip kepemilikan regional untuk mendukung stabilitas jangka panjang serta memperkuat dialog mengenai berbagai persoalan kawasan.
Sementara itu, mekanisme E3 terdiri atas Jerman, Inggris, dan Prancis. Kerja sama trilateral tersebut bermula pada 2003 dalam diplomasi terkait program nuklir Iran.
Pernyataan Turki menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui diplomasi dan dialog, terutama ketika ketegangan militer berpotensi berdampak melampaui negara-negara yang terlibat langsung. Keberlanjutan gencatan senjata dan upaya mencapai kesepakatan damai menjadi faktor penting untuk mencegah eskalasi lebih luas di kawasan. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan