Pemkab Kutim menjadwalkan evaluasi bersama Disdik dan Dinkes pada Senin (26/10/2026) untuk mengantisipasi potensi gangguan kesehatan pelajar akibat paparan debu dan kabut asap.
KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) berencana mengevaluasi potensi dampak debu dan kabut asap terhadap kesehatan pelajar bersama Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada Senin (26/10/2026). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya antisipasi pemerintah daerah untuk melindungi anak-anak sekolah dari risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Rencana tersebut disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, saat menghadiri malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sangatta, Sabtu (24/10/2026).
Ardiansyah menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu mengantisipasi potensi gangguan kesehatan akibat debu dan kabut asap, terutama bagi anak-anak yang menjalani aktivitas belajar di sekolah.
“Oleh karenanya, dalam kesempatan ini kita masih mengantisipasi dampak debu asap itu, terutama anak-anak kita yang sekolah,” jelasnya.
Menurut Ardiansyah, kewaspadaan terhadap dampak kabut asap diperlukan karena fenomena tersebut dapat dirasakan di berbagai wilayah. Ia mengaku menemukan kondisi udara yang berbeda ketika melakukan perjalanan ke luar daerah.
Saat tiba di Jakarta, Ardiansyah mencium bau asap di tengah kondisi udara yang berkabut. Padahal, menurut pengalamannya, gangguan kualitas udara di ibu kota umumnya berkaitan dengan aktivitas kendaraan bermotor dan sumber polusi lainnya.
“Bukan kabut polusi dari kendaraan bermotor atau polusi lain,” kata Ardiansyah.
Pengalaman serupa kembali dirasakannya ketika tiba di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, pada Rabu (21/10/2026). Dari dalam pesawat, ia mengaku melihat kondisi udara yang dipenuhi kabut dan partikel menyerupai abu.
Namun, setelah turun dari pesawat, ia mencium bau asap yang membuatnya menduga bahwa kabut tersebut bukan sekadar fenomena udara berkabut biasa.
Ardiansyah kemudian menanyakan kondisi tersebut kepada warga setempat. Ia mendapat penjelasan bahwa asap yang tercium diduga berasal dari wilayah lain.
“Saya mengatakan, jangan ngomong kiriman. Karena enggak ada yang mengirim asap di sini,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Ardiansyah mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi dampak kabut asap. Ia menilai langkah antisipasi perlu menjadi perhatian bersama, terutama untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak usia sekolah.
“Kita hanya mampu untuk mengantisipasi,” kata Ardiansyah.
Selain menyiapkan evaluasi bersama Disdik dan Dinkes Kutim, Ardiansyah berharap hujan lebat yang turun pada Sabtu (24/10/2026) dapat membantu memperbaiki kondisi udara. Ia juga berharap situasi pada hari berikutnya semakin membaik sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat berlangsung tanpa gangguan.
Meski demikian, Ardiansyah tetap mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuh di tengah potensi paparan debu dan asap.
“Tetap kita harus jaga kesehatan. Tetap kita harus jaga kebugaran,” tuturnya.
Evaluasi yang direncanakan pada Senin (26/10/2026) diharapkan dapat menjadi dasar bagi Pemkab Kutim dalam menentukan langkah antisipasi yang diperlukan, khususnya untuk menjaga kesehatan pelajar dan memastikan kegiatan pendidikan tetap berlangsung dengan memperhatikan kondisi lingkungan. [] (ADV)
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan