Asap Pekat Karhutla Berlalu, Jalur Udara Ketapang-Pontianak Normal Kembali

Setelah hampir tiga bulan lumpuh akibat kepungan kabut asap karhutla, aktivitas penerbangan rute Ketapang-Pontianak kini kembali normal menyusul membaiknya jarak pandang di bandara setempat.

KETAPANG – Sinyal kelegaan akhirnya dirasakan oleh warga Kabupaten Ketapang (Ketapang) setelah roda transportasi udara yang sempat lumpuh akibat kepungan asap pekat berangsur pulih. Setelah hampir tiga bulan dihantam badai pembatasan penerbangan yang dipicu oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), aktivitas dirgantara di wilayah tersebut dinyatakan kembali normal menyusul membaiknya jarak pandang secara signifikan, sebagaimana dilansir Kompas.com, Minggu, (01/11/2026).

Pemulihan jalur udara ini membawa angin segar bagi kelancaran mobilitas publik yang sebelumnya sempat tersendat total. Berdasarkan pemantauan dari otoritas penerbangan setempat, jarak pandang horizontal pada pagi hari telah menembus angka enam kilometer, sebuah parameter keamanan yang sangat memadai untuk penerbangan sipil. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Dwi Muji Raharjo, menyampaikan bahwa pemulihan rute utama tersebut bahkan telah efektif berlaku sejak hari sebelumnya. “Penerbangan rute Ketapang-Pontianak sudah normal sejak kemarin, Sabtu 31 Oktober 2026,” kata Dwi saat dikonfirmasi, Minggu, (01/11/2026).

Kendati demikian, bayang-bayang kerugian akibat kelumpuhan transportasi udara selama hampir satu triwulan ini menyisakan catatan kritis dari masyarakat. Warga setempat mendesak agar insiden tahunan tersebut dijadikan momentum evaluasi total terhadap sistem pencegahan dan mitigasi bencana lingkungan di daerah. Salah satu warga Ketapang, Dwi Agus, mengungkapkan bahwa normalnya kembali jalur penerbangan ini memang sangat membantu kelancaran mobilitas menuju Kota Pontianak (Pontianak), namun ia tetap menuntut ketegasan serta kecepatan respons dari pemangku kebijakan. “Normalnya penerbangan tentu melegakan. Tetapi, pemerintah juga harus mengevaluasi penanganan karhutla. Jangan sampai masyarakat harus menunggu berbulan-bulan untuk kembali menikmati kondisi normal. Pencegahan dan penanganan harus dilakukan lebih cepat,” ujar Dwi Agus.

Senada dengan hal tersebut, warga Ketapang lainnya, Agung, memandang bahwa lumpuhnya aktivitas penerbangan akibat kabut asap merupakan alarm keras bahwa persoalan karhutla bukan sekadar isu ekologis semata, melainkan urat nadi perekonomian daerah yang ikut tercekik. Dirinya berharap agar aparat dan instansi terkait tidak lagi bersikap reaktif, melainkan mampu mengantisipasi titik api sejak dini serta menjatuhkan sanksi tegas tanpa kompromi kepada pihak-pihak yang sengaja membakar lahan. “Jangan sampai setiap tahun masyarakat menghadapi persoalan yang sama. Pemerintah harus lebih siap dan cepat bertindak, bukan baru sibuk setelah asap mengganggu penerbangan dan aktivitas warga,” ujar Agung.

Di tengah asa yang kembali tumbuh, denyut nadi penerbangan di bandara tersebut diproyeksikan akan semakin padat menyusul kepastian pembukaan kembali rute penerbangan langsung menuju ibu kota negara melalui Bandara Halim Perdanakusuma yang dijadwalkan pada 4 November mendatang, yang diharapkan mampu mendongkrak kembali stabilitas konektivitas dan roda perekonomian regional secara menyeluruh. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *