Menteri Perang AS Pete Hegseth mencopot Letnan Jenderal Brett Sylvia dari jabatan strategis Pentagon di tengah penyelidikan dugaan pembocoran informasi rahasia mengenai perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina.
WASHINGTON – Penyelidikan dugaan pembocoran informasi rahasia terkait perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina berujung pada pencopotan Letnan Jenderal Brett Sylvia dari jabatan strategis di militer Amerika Serikat (AS). Menteri Perang AS Pete Hegseth mengambil keputusan tersebut saat Pentagon masih mendalami dugaan pelanggaran yang dinilai berpotensi mengancam keamanan nasional.
Sylvia sebelumnya menjabat Direktur Direktorat Strategi, Rencana, dan Kebijakan pada Staf Gabungan Militer AS atau dikenal sebagai J5. Seorang pejabat Departemen Perang mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Sylvia diduga bertemu sejumlah jurnalis di luar Pentagon untuk membocorkan informasi rahasia.
“Sylvia telah bertemu dengan sejumlah jurnalis di luar Pentagon untuk membocorkan informasi rahasia.”
Pejabat tersebut juga menyebut penyelidikan mencakup dugaan pembocoran informasi mengenai perang Iran, perang Rusia-Ukraina, dan sejumlah persoalan lainnya. Informasi itu disampaikan sebagaimana diberitakan Sindo News, Jumat (30/10/2026).
Pentagon menyatakan penyelidikan terhadap Sylvia masih berlangsung dan telah dirujuk ke Departemen Kehakiman untuk penanganan lebih lanjut. Pejabat Departemen Perang menegaskan Sylvia merupakan kepala perencana militer, tetapi bukan perencana utama operasi terhadap Iran.
“Tanggung jawab tersebut berada di tangan CENTCOM [Komando Pusat] dan komandannya, Laksamana [Brad] Cooper,” imbuh dia.
Pejabat yang sama mengeklaim Sylvia gagal dalam tiga kali tes poligraf yang berkaitan dengan dugaan kebocoran informasi rahasia. Ia juga menuduh tindakan tersebut telah membahayakan keamanan nasional.
“Tindakan mendesak diperlukan dan tidak bisa ditunda sedetik pun,” pungkasnya.
Sementara itu, Asisten Menteri Perang untuk Urusan Publik Sean Parnel menegaskan sikap pemerintah terhadap pembocoran informasi tanpa izin melalui unggahan di media sosial X pada Kamis.
“Departemen Perang tidak menoleransi sama sekali tindakan pembocoran informasi rahasia secara sengaja dan tanpa izin.”
Parnel tidak menyebut nama Sylvia secara langsung. Di sisi lain, seorang pejabat yang berbicara kepada kantor berita The Associated Press dengan syarat anonim menyatakan belum ada nama pengganti untuk posisi J5.
Pencopotan Sylvia menambah daftar pejabat Pentagon yang terseret penyelidikan kebocoran informasi pada masa kepemimpinan Hegseth. Ia menjadi pejabat kedua yang meninggalkan posisi tersebut. Pendahulunya dilaporkan dipaksa pensiun pada Oktober tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, Hegseth juga memecat tiga staf dari lingkaran dalamnya dalam penyelidikan serupa yang turut melibatkan penggunaan tes poligraf.
Sebelum memimpin J5, Sylvia pernah menjadi Komandan Divisi Lintas Udara ke-101 di Fort Campbell, Kentucky, hingga Mei 2025. Ia juga pernah menjabat wakil direktur pada kantor yang kemudian dipimpinnya. Riwayat pengabdiannya mencakup enam medali Bronze Star, termasuk satu penghargaan atas keberanian dalam pertempuran, serta Purple Heart sebagai tanda pernah terluka dalam pertempuran.
Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan terkait kemungkinan operasi militer baru AS terhadap Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan akan “menyelesaikan tugas” di Iran setelah perang yang dimulai bersama Israel delapan bulan lalu. Trump juga menyebut rencana tersebut akan dijalankan setelah pemilu sela pada Selasa mendatang.
Pencopotan pejabat perencana militer di tengah pembahasan kemungkinan serangan baru terhadap Iran menambah perhatian terhadap pengamanan informasi strategis Pentagon. Namun, dugaan pembocoran yang dituduhkan kepada Sylvia masih dalam proses penyelidikan dan belum dapat diperlakukan sebagai pelanggaran yang terbukti. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan