Camat Sebulu, Edy Fahruddin (Photo/Reza)

Camat Sebulu Usulkan Sumur Bor untuk Atasi Kekeringan Lahan Pertanian

Sejumlah embung di Kecamatan Sebulu mulai mengering akibat musim kemarau, sementara pemerintah kecamatan mengharapkan bantuan sumur bor untuk menjaga ketersediaan air dan produktivitas pertanian, termasuk di kawasan SP2 Desa Manunggal Jaya yang memiliki sekitar 600 hektare lahan.

KUTAI KARTANEGARA – Kekeringan yang menyebabkan sejumlah embung mulai mengering mengancam ketersediaan air bagi kegiatan pertanian di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah kecamatan karena berpotensi mengganggu produksi padi, termasuk di kawasan SP2 Desa Manunggal Jaya yang memiliki lahan pertanian sekitar 600 hektare.

Camat Sebulu, Edy Fahruddin, mengatakan keterbatasan sumber air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani selama musim kemarau. Pemerintah kecamatan berharap adanya dukungan pemerintah pusat melalui pembangunan sumur bor sebagai sumber air alternatif untuk mempertahankan kegiatan pertanian ketika pasokan air dari embung berkurang.

“Ke depannya, mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah pusat atau kementerian untuk pembangunan sumur bor. Itu mungkin akan lebih baik nantinya,” kata Edy kepada Berita Borneo, Kamis (29/10/2026).

Menurut Edy, kawasan SP2 Desa Manunggal Jaya merupakan salah satu wilayah pertanian yang cukup luas di Kecamatan Sebulu. Dengan luas lahan diperkirakan mencapai 600 hektare, sebagian besar masyarakat setempat menjalankan kegiatan pertanian dengan komoditas utama padi.

Kondisi tersebut menjadikan ketersediaan air sebagai kebutuhan penting bagi keberlangsungan usaha tani. Berkurangnya pasokan air selama musim kemarau berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman dan memengaruhi hasil panen apabila kebutuhan pengairan tidak dapat terpenuhi.

Persoalan kekeringan di Sebulu berlangsung ketika fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat memengaruhi kondisi iklim di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kaltim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperingatkan bahwa fenomena tersebut berpotensi memperpanjang periode kering dan menyebabkan keterlambatan datangnya musim hujan.

Meski demikian, pemerintah kecamatan belum memiliki data terperinci mengenai luas tanaman yang mengalami kekurangan air maupun besaran penurunan produksi akibat kondisi tersebut.

Edy mengakui penghitungan kerugian pertanian memerlukan pendataan lebih lanjut karena dampak kekeringan tidak hanya perlu dilihat dari komoditas padi, tetapi juga tanaman pangan lainnya.

“Saya belum memahami perhitungan kerugiannya, terutama terkait komoditas padi. Mungkin ada juga komoditas lain seperti jagung,” ujarnya.

Belum tersedianya data kerugian membuat besaran dampak ekonomi terhadap petani belum dapat dipastikan. Karena itu, pendataan kondisi tanaman, kebutuhan pengairan, dan potensi penurunan hasil panen menjadi informasi penting untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Di tengah persoalan ketersediaan air, pemerintah kecamatan juga terus mendorong perbaikan infrastruktur pendukung pertanian, terutama akses jalan yang digunakan masyarakat untuk menuju lahan dan mengangkut hasil produksi.

Sejak 2024, perbaikan jalan pertanian telah dilakukan melalui kerja sama pemerintah dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kegiatan tersebut mencakup jalur penghubung dari wilayah Kecamatan Muara Kaman menuju Sebulu.

Peningkatan akses jalan diharapkan dapat mempermudah mobilitas petani, mendukung pengangkutan sarana produksi, serta memperlancar distribusi hasil pertanian menuju pasar.

Namun, perbaikan infrastruktur jalan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan petani ketika menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau. Keberadaan sumber air alternatif menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian agar lahan pertanian tetap dapat dikelola secara produktif.

Pembangunan sumur bor diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan. Meski demikian, penentuan lokasi dan kapasitas sumber air tetap memerlukan kajian teknis agar sesuai dengan kondisi lahan dan ketersediaan air tanah.

Pemerintah kecamatan berharap dukungan terhadap sektor pertanian dapat dilakukan secara berkelanjutan, baik melalui peningkatan infrastruktur jalan maupun penyediaan fasilitas pengairan yang sesuai dengan kebutuhan petani.

Dengan dukungan sumber air alternatif dan akses pertanian yang memadai, kegiatan produksi pangan di Sebulu diharapkan dapat lebih terlindungi dari risiko kekeringan. Upaya tersebut juga diharapkan membantu menjaga produktivitas lahan, keberlangsungan usaha tani, serta pendapatan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian. [] (ADV)

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *