TENGGARONG – DESA Rapak Lambur tengah mempersiapkan transformasi menjadi destinasi wisata berbasis durian. Dengan potensi alam yang melimpah dan tradisi buah durian yang sudah mengakar, desa ini berambisi menjadi pusat wisata agro durian di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
“Desa kami sudah dikenal sebagai penghasil durian berkualitas sejak lama. Tahun depan, saat panen raya pada Januari hingga Februari 2025, kami akan memulai langkah besar menjadikan desa ini sebagai destinasi wisata durian,” ucap Kepala Desa Rapak Lambur Muhammad Yusuf kepada beritaborneo.com melalui sambungan telepon, Sabtu (30/11/2024).
Muhammad Yusuf menjelaskan, konsep wisata yang akan dikembangkan tidak hanya berfokus pada pengenalan durian sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pengalaman wisata yang menyeluruh. Wisatawan nantinya dapat menikmati tur kebun durian, belajar tentang cara budidaya, hingga mencicipi berbagai jenis durian seperti Montong dan Sitokong langsung dari pohonnya.
“Kami ingin memberikan pengalaman autentik kepada para pengunjung. Bukan hanya menikmati durian, mereka juga akan merasakan atmosfer kehidupan desa yang asri,” imbunya.
Selain itu, pemerintah desa juga berencana mengadakan festival panen raya durian yang diharapkan menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Festival ini akan menjadi ajang promosi bagi durian lokal sekaligus memperkenalkan produk-produk olahan durian dari masyarakat setempat.
Perlu diketahui, Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki lahan durian seluas 100 hektare, yang sebagian besar dikelola oleh warga secara mandiri. Yusuf melihat, potensi tersebut bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya desa kepada dunia luar.
“Kami ingin mengintegrasikan wisata alam, tradisi lokal, dan kuliner khas desa. Wisatawan tidak hanya mencicipi durian, tetapi juga mengenal cerita di balik pohon-pohon durian yang ada di sini,” jelasnya.
Untuk mendukung pengembangan wisata, pemerintah desa juga berkomitmen melakukan peremajaan kebun durian dengan mengganti pohon-pohon yang sudah tidak produktif. Pada 2025, desa akan membagikan bibit durian unggul kepada warga sebagai bagian dari program keberlanjutan.
“Kami tidak ingin hanya fokus pada wisata saat ini saja, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap bisa merasakan manfaat dari potensi ini,” tambahnya.
Dengan hadirnya konsep wisata durian ini, Yusuf berharap Desa Rapak Lambur dapat menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Kutai Kartanegara, sekaligus mengangkat perekonomian masyarakat setempat.
“Kami percaya durian bukan hanya soal buah, tetapi simbol identitas dan potensi yang bisa membawa desa kami ke panggung yang lebih besar,” tutupnya. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Agus P Sarjono