Menlu AS Marco Rubio menyatakan Iran berupaya mencapai kesepakatan dengan Washington, namun menegaskan tekanan akan terus ditingkatkan jika Teheran tidak menunjukkan komitmen dalam perundingan.
MANILA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, melontarkan pernyataan keras terhadap Iran dengan mengeklaim Teheran tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan Washington. Di saat yang sama, Rubio memperingatkan bahwa tekanan terhadap Iran akan terus meningkat apabila tidak menunjukkan keseriusan dalam perundingan.
Rubio menyampaikan pernyataan tersebut di sela-sela Konferensi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN) di Manila, Filipina. Menurutnya, Iran dinilai belum menunjukkan komitmen untuk mematuhi setiap kesepakatan yang pernah dicapai.
“Iran memohon kesepakatan,” katanya.
“Sepertinya Iran belum siap membuat kesepakatan, mereka akan membayar harganya,” tambahnya.
Rubio juga menuding Iran kerap mengingkari ataupun mengubah isi kesepakatan setelah disetujui. “Setiap kali mereka membuat kesepakatan, mereka selalu melanggarnya atau mengubahnya.”
“Harga yang harus dibayar Iran akan semakin tinggi setiap malam sampai mereka sadar,” katanya. “Saya rasa mereka tidak serius untuk membuat kesepakatan,” ungkap dia kepada wartawan.
“Masalahnya adalah Anda tidak dapat membuat kesepakatan dengan orang lain kecuali mereka akan menepatinya,” kata diplomat senior AS itu, mengklaim Teheran “melanggar” atau mencoba “mengubah kesepakatan” setelah menyepakatinya.
Ia menyimpulkan, “Jadi sekarang mereka membayar harganya, dan mungkin mereka akan berubah.”
Menanggapi pernyataan pejabat Iran mengenai kebijakan “mata ganti mata”, Rubio mengatakan pendekatan Presiden AS Donald Trump adalah “satu kepala untuk satu mata”.
“Mereka akan membayar harga yang sangat mahal untuk hal-hal yang mereka lakukan. Mereka sudah membayar harga yang mahal,” kata Rubio, sebagaimana diberitakan SindoNews, Kamis (23/07/2026), seraya mengklaim infrastruktur industri Iran sedang “dihancurkan” sehingga menimbulkan kerugian bernilai miliaran dolar.
Rubio turut menilai Iran dikelola oleh kelompok ulama radikal dan menyebut sumber daya negara tersebut lebih banyak dialihkan untuk mendukung kelompok-kelompok bersenjata dibandingkan pembangunan ekonomi.
“Iran bisa menjadi negara terkaya di Timur Tengah jika mereka mau.”
“Tetapi sebaliknya mereka mengambil uang mereka, dan mereka menggunakannya, dan mereka memberikannya kepada Hizbullah, mereka memberikannya kepada Hamas, mereka memberikannya kepada Houthi. Mereka memberikannya kepada milisi Syiah. Mereka memberikannya kepada terorisme yang disponsori di seluruh dunia.”
Selain membahas Iran, Rubio menegaskan fokus utama AS tetap mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. Ia juga menyinggung kerja sama nuklir sipil dengan Arab Saudi yang menurutnya masih akan melalui proses pemberitahuan kepada Kongres AS sebelum dapat dibahas lebih lanjut.
“Bahkan ketika pengumuman resmi dibuat, itu harus melalui proses pemberitahuan kongres. Dan kemudian kita dapat berbicara lebih mendalam tentang hal itu, tetapi cukuplah untuk mengatakan bahwa AS selalu mencari perjanjian kerja sama dengan sekutu,” papar dia.
Rubio menyebut Arab Saudi sebagai “sekutu strategis” Washington.
“Ketika negara-negara memutuskan program nuklir sipil yang damai, kami lebih memilih mereka melakukannya bersama kami daripada dengan negara lain.” []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan