Tumpahan minyak dari tanker CAROLINE BEZENGI telah mencemari pesisir Oman dan area sekitar 390 kilometer persegi, termasuk kawasan konservasi laut yang menjadi habitat berbagai biota sensitif.
MUSCAT – Tumpahan minyak dari kapal tanker CAROLINE BEZENGI yang kandas di lepas pantai Oman mulai mengancam kawasan konservasi laut dan pesisir negara tersebut. Ceceran minyak telah mencapai daratan di Ras Madrakah dan mencakup area sekitar 390 kilometer persegi, termasuk sekitar Kepulauan Hallaniyat yang menjadi habitat berbagai biota laut sensitif dan penyu langka.
Kantor Berita Oman atau Oman News Agency (ONA) melaporkan, pemantauan otoritas lingkungan menunjukkan sejumlah pantai di Ras Madrakah telah terdampak pencemaran minyak. Bentangan pesisir sekitar 40 kilometer di kawasan tersebut juga diperkirakan berpotensi terkena ceceran.
Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization (IMO) menyatakan kebocoran minyak dari CAROLINE BEZENGI telah bergerak mengikuti arus hingga mencapai sebagian daratan Oman. Kapal tanker minyak mentah itu berada di lepas pantai Sharbithat setelah kandas pada 30 Juni 2026.
“Minyak terbawa arus ke arah timur laut Pulau Al Qibliyyah dengan sebagian minyak dilaporkan mencapai daratan,” demikian pernyataan IMO, seperti dikutip Agence France-Presse (AFP), sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Kamis, (13/08/2026).
Ras Madrakah dan Al Qibliyyah berjarak lebih dari 200 kilometer. IMO menyebut angin monsun musiman menyulitkan tim mendekati kapal sehingga operasi penyelamatan dan penanganan kebocoran mengalami penundaan.
Pemerintah Oman pada Senin (09/08/2026) menyatakan tengah menangani tumpahan yang telah menyebar di area sekitar 390 kilometer persegi. Konsentrasi minyak dilaporkan berada di sekitar Kepulauan Hallaniyat di lepas pantai selatan Oman.
Wilayah Hallaniyat memiliki arti penting karena ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut untuk melindungi ekosistem sensitif. Perairan tersebut menjadi habitat beragam kehidupan laut, termasuk spesies penyu laut langka yang berpotensi terdampak apabila pencemaran terus meluas.
ONA juga memperkirakan ceceran minyak dapat mencapai Pulau Masirah dalam waktu beberapa jam. Kondisi itu memperluas kekhawatiran terhadap dampak ekologis di sepanjang pesisir dan pulau-pulau Oman.
Hingga kini, otoritas Oman belum memastikan penyebab kebocoran minyak dari CAROLINE BEZENGI. Namun, perusahaan keamanan maritim Inggris Vanguard menyebut kapal tersebut sebelumnya mengalami ledakan ketika berlayar di lepas pantai Yaman pada awal Juni 2026.
Greenpeace dan kelompok advokasi PAX memperingatkan tumpahan tersebut berpotensi berkembang menjadi bencana lingkungan. Kedua kelompok memperkirakan kapal tanker itu membawa sekitar satu juta barel minyak mentah.
CAROLINE BEZENGI juga diyakini merupakan bagian dari armada bayangan Rusia yang digunakan untuk mempertahankan ekspor minyak di tengah sanksi negara-negara Barat. Kapal-kapal dalam jaringan tersebut kerap mendapat sorotan terkait usia armada, standar pemeliharaan, asuransi, dan aspek keselamatan.
Di sisi lain, pencemaran minyak juga dilaporkan muncul di wilayah Iran. Kantor Berita Republik Islam Iran atau Islamic Republic News Agency (IRNA) melaporkan ceceran minyak telah mencapai pesisir selatan Pulau Qeshm dan sebagian Pulau Hengam.
Situs pemantauan kapal berbasis di Amerika Serikat (AS), TankerTrackers, menduga pencemaran tersebut berasal dari insiden terhadap kapal pengangkut curah MINOAN PIONEER di perairan Oman pada 3 Agustus 2026.
“Tumpahan minyak itu kemudian terbawa arus melintasi selat menuju wilayah Iran,” demikian pernyataan TankerTrackers.
Meluasnya ceceran hingga pesisir Oman dan wilayah sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap kerusakan ekosistem laut lintas wilayah. Kecepatan penanganan kebocoran, perlindungan kawasan konservasi, dan pemantauan arah pergerakan minyak menjadi krusial untuk membatasi dampak pencemaran terhadap kehidupan laut serta masyarakat pesisir. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan