Sebanyak 850 personel gabungan Satgas Karhutla menggelar salat Istiska di Balikpapan sekaligus memperkuat langkah pencegahan kebakaran melalui pemadaman, modifikasi cuaca, edukasi masyarakat, dan kesiapan tim kesehatan.
BALIKPAPAN – Sekitar 850 personel gabungan yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menggelar salat Istiska dan doa bersama di Lapangan Markas Komando Daerah Militer (Makodam) VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (29/08/2026). Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar bersama memohon turunnya hujan sekaligus perlindungan dari ancaman bencana di tengah musim kemarau dan penanganan karhutla.
Kegiatan tersebut digagas Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI/Mulawarman Krido Pramono. Salat dan doa bersama diikuti personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Balikpapan.
Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Kaltim Adrianto Jossy Kusumo turut menghadiri kegiatan tersebut. Salat Istiska dipimpin Khoirul Fatoni sebagai imam, sedangkan khotbah disampaikan Irfanuddin Hashim.
Usai salat dan doa bersama, Pangdam VI/Mulawarman berharap hujan segera turun di Kaltim, Kalimantan Utara (Kaltara), maupun wilayah lain di Indonesia. Hujan diharapkan dapat membantu mengurangi kekeringan dan menekan risiko karhutla.
“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan rahmat hujan dan kita dijauhkan dari bencana. Tidak hanya di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, tetapi di seluruh Indonesia,” kata Krido.
Menurut Krido, kondisi kemarau saat ini perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi meningkatkan kekeringan sekaligus risiko karhutla. Ia menyebut kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan situasi pada 2019 yang menjadi salah satu periode dengan tingkat kekeringan tinggi dalam satu dekade terakhir.
“Ketika nanti turun hujan, akan membawa keberkahan dan kemanfaatan. Lingkungan akan kembali segar, masyarakat dimudahkan mendapatkan air bersih, dan utamanya kebakaran hutan dan lahan dapat lebih diminimalisasi,” ujarnya.
Krido mengatakan karhutla telah terjadi di sejumlah wilayah Kaltim dan Kaltara. Menurut dia, titik panas dan kebakaran yang muncul dapat ditangani dengan cepat melalui sinergi berbagai unsur yang terlibat dalam penanggulangan karhutla.
“Alhamdulillah kita bisa menanggulangi itu semuanya. Hotspot-hotspot dan kebakaran yang terjadi dengan cepat bisa kita padamkan,” katanya.
Penanganan karhutla, lanjut Krido, tidak hanya dilakukan melalui pemadaman ketika api muncul. Upaya pencegahan dan mitigasi juga terus dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran meluas.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah operasi modifikasi cuaca guna meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan. Krido menegaskan penanggulangan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat.
Pangdam VI/Mulawarman mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara dibakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
“Semua kita lakukan secara bersama-sama dan masif untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, juga kebakaran di kompleks perumahan atau tempat-tempat umum lainnya,” ujarnya.
Menurut Krido, potensi kebakaran tidak hanya terdapat di kawasan hutan dan lahan. Permukiman, perkantoran, dan fasilitas umum juga perlu mendapat perhatian selama kondisi cuaca kering.
Masyarakat juga diminta berhati-hati dalam menggunakan listrik, kompor gas, maupun sumber api lainnya yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran.
Selain mendukung penanggulangan karhutla, TNI menyiapkan tim kesehatan untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap. Tim tersebut dapat diterjunkan ke lapangan dengan membawa berbagai perlengkapan kesehatan, termasuk masker dan tabung oksigen.
“Kita juga dari tim-tim kesehatan turun ke lapangan, tidak hanya melakukan penjagaan dan membantu masyarakat, tetapi juga menyiapkan tabung-tabung oksigen, masker, dan lain sebagainya agar masyarakat tetap terjaga,” katanya.
Krido turut mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di sekitar kawasan hutan dan lahan yang terbakar, terutama di sekitar titik panas atau hotspot, untuk mengurangi risiko paparan asap maupun bahaya kebakaran.
“Semoga masyarakat selalu terjaga dan terhindar dari segala macam penyakit,” pungkasnya. []
Penulis: Irwanto Sianturi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan