Teheran membantah rencana menargetkan Barron Trump setelah televisi pemerintah Iran menayangkan video AI yang memuat informasi mengenai tempat tinggal dan pergerakannya.
TEHERAN – Pemerintah Iran berupaya meredam persepsi bahwa Barron Trump, putra bungsu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menjadi sasaran ancaman setelah muncul tayangan televisi Iran yang memuat informasi mengenai tempat tinggal dan pergerakannya di New York. Teheran membantah memiliki rencana untuk menargetkan anggota keluarga Trump dan menyebut laporan mengenai ancaman tersebut sebagai propaganda.
Bantahan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei dalam pernyataan pekan ini. Ia menilai laporan mengenai dugaan rencana serangan terhadap Barron Trump merupakan upaya untuk memengaruhi Presiden AS di tengah hubungan kedua negara yang masih tegang.
“Klaim soal adanya rencana yang menargetkan putra Trump hanyalah kebohongan besar yang dirancang oleh Netanyahu, untuk menipu dan dan menakut-nakuti Presiden AS,” sebut Rezaei dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita ISNA.
Pernyataan tersebut sebagaimana dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Sabtu (29/08/2026), juga memuat tudingan Rezaei terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyebut laporan tersebut sebagai “tipu muslihat Netanyahu”.
Rezaei menegaskan Iran tidak memiliki niat untuk mengincar anggota keluarga Trump. Pernyataan itu muncul setelah televisi pemerintah Iran Channel 3 menayangkan video buatan artificial intelligence (AI) yang memuat informasi mengenai lokasi tempat tinggal dan pergerakan Barron Trump di New York.
Tayangan tersebut kemudian ditafsirkan secara luas sebagai ancaman terhadap putra bungsu Trump. Kemunculannya memicu perhatian karena informasi mengenai lokasi dan aktivitas pribadi seseorang dapat menimbulkan persepsi ancaman, terutama ketika hubungan Iran dan AS masih berada dalam kondisi penuh ketegangan.
Perselisihan kedua negara kembali memanas sejak konflik pecah setelah serangan skala besar yang dilancarkan Washington bersama Israel pada akhir Februari lalu. Iran kemudian merespons dengan menyerang posisi dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut dicapai melalui mediasi Pakistan dan Qatar dengan tujuan menghentikan permusuhan serta membuka jalan menuju negosiasi.
Namun, pelaksanaan MoU menghadapi hambatan. Teheran menuduh Washington tidak memenuhi komitmennya, sementara bentrokan kembali terjadi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada Juli lalu.
Dalam situasi tersebut, bantahan Teheran mengenai dugaan ancaman terhadap Barron Trump menjadi bagian dari upaya pemerintah Iran menjelaskan posisinya. Iran menegaskan bahwa anggota keluarga Trump bukan sasaran yang hendak ditargetkan, meskipun ketegangan antara kedua negara belum sepenuhnya mereda. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan