Mantan perwira intelijen Israel Adi Rotem mengungkap komunikasi langsung dengan pejabat senior Hamas pada 2024 yang berperan dalam proses kesepakatan pembebasan sandera pada Januari 2025.
JERUSALEM – Jalur komunikasi rahasia antara Israel dan Hamas pernah dibuka di tengah perang Gaza pada 2024 untuk mencari jalan menuju kesepakatan pembebasan sandera. Mantan perwira intelijen Israel, Adi Rotem, mengungkapkan dirinya menjadi pihak yang bernegosiasi langsung dengan pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, dalam upaya yang kemudian ikut mengantarkan kesepakatan pada Januari 2025.
Rotem mengungkapkan kisah tersebut pada Sabtu (29/8), termasuk alasan memilih Hamad sebagai mitra komunikasi. Menurut dia, pembicaraan itu dilakukan ketika Israel masih melancarkan serangan ke Gaza dan telah mendapat persetujuan dari “eselon politik”. Pengungkapan tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah konflik terbuka, komunikasi tidak langsung antara kedua pihak tetap berlangsung untuk membahas pembebasan sandera dan penghentian pertempuran, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin (31/08/2026).
Rotem mengatakan gagasan mendekati Hamad muncul karena pejabat Hamas tersebut sebelumnya dinilai memiliki pengalaman dalam proses negosiasi. Hamad disebut pernah berperan dalam kesepakatan Shalit pada 2011, ketika Israel membebaskan 1.027 tahanan keamanan Palestina sebagai imbalan pembebasan seorang tentara Israel.
“Saya mengerti bahwa jika ada alamat, dialah alamat yang tepat. Ghazi Hamad adalah seseorang yang kami kenal dari masa lalu… Dia cukup senior, dan cerdik, memiliki akses ke seluruh pimpinan [Hamas]. Saya tentu tidak naif tentang dia, tetapi ada sesuatu tentang dirinya yang mengatakan bahwa mungkin saja kita dapat melakukan diskusi ini,” kata Adi.
Menurut Rotem, keputusan membuka komunikasi langsung tersebut semakin didorong oleh situasi penyanderaan yang memburuk setelah enam sandera Hamas, yakni Hersh Goldberg-Polin, Ori Danino, Eden Yerushalmi, Almog Sarusi, Alexander Lobanov, dan Carmel Gat, tewas pada Agustus 2024.
Ia menuturkan upaya perundingan sepanjang musim panas 2024 sebelumnya berjalan tanpa hasil. Situasi itu terjadi setelah kesepakatan pada akhir 2023 yang menghasilkan pembebasan sejumlah sandera perempuan dan anak-anak.
“Itu setelah kami menyelesaikan kesepakatan untuk pembebasan sandera perempuan dan anak-anak pada akhir tahun 2023,” katanya.
Pembicaraan dengan Hamad kemudian berkontribusi pada proses yang menghasilkan kesepakatan Januari 2025. Dalam kesepakatan tersebut, puluhan sandera yang masih hidup maupun telah meninggal dibebaskan secara bertahap, sementara bantuan kemanusiaan ke Gaza ditingkatkan dan lebih dari 1.000 tahanan keamanan Palestina dibebaskan dari penjara Israel.
Kesepakatan itu juga memuat rencana pembicaraan tahap kedua dan ketiga yang mencakup pembebasan seluruh sandera, penghentian perang, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza. Namun, proses tersebut tidak berlanjut sesuai rencana setelah gencatan senjata pada tahap pertama runtuh.
Rotem menegaskan komunikasi tersebut bukan berarti permusuhan antara Israel dan Hamas berakhir. Menurut dia, hubungan kedua pihak tetap berada dalam konteks konflik, tetapi kebutuhan untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan membuat saluran komunikasi tetap diperlukan.
Ketika ditanya secara spesifik apa yang telah ia katakan kepada Hamad, ia menjawab, “Sebenarnya, kata-kata persis itu: Kita adalah musuh di masa perang.
Kita akan terus berperang. Pada saat yang sama, kita memiliki peran fungsional. Saat ini kita sedang menyelesaikan masalah negosiasi. Dan kita akan terus menjadi musuh bebuyutan sesaat sebelum dan sesaat setelahnya.”
Pengakuan tersebut memperlihatkan bagaimana negosiasi terkait sandera dapat berlangsung bersamaan dengan konflik bersenjata. Bagi kedua pihak, komunikasi itu menjadi salah satu jalur untuk menangani persoalan sandera dan kemanusiaan meskipun perbedaan politik serta konflik militer tetap berlangsung. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan