AS-Iran Saling Serang, Nasib Selat Hormuz Jadi Sorotan

AS menyatakan serangan ke Pulau Larak ditujukan untuk menghancurkan peluncur Iran yang diduga disiapkan untuk mengancam pelayaran di Selat Hormuz.

TEHERAN – Serangan Amerika Serikat (AS) ke Pulau Larak di Selat Hormuz pada Minggu (30/8) dipicu dugaan keberadaan peluncur roket Iran yang dinilai dapat mengancam jalur pelayaran strategis tersebut. AS menyatakan dua peluncur milik Iran menjadi sasaran serangan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) disebut bersiap menggunakan rudal yang membawa ranjau laut.

Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan serangan dilakukan terhadap dua peluncur di Pulau Larak. Langkah tersebut menandai kembali meningkatnya ketegangan AS-Iran setelah hubungan kedua negara sempat mereda dalam beberapa pekan terakhir, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin (31/08/2026).

Menurut AS, IRGC diduga tengah mempersiapkan rudal yang dapat membawa ranjau untuk ditempatkan di Selat Hormuz. Kekhawatiran itu berkaitan dengan posisi selat tersebut sebagai salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia.

Mantan Direktur Urusan Semenanjung Arab di Kementerian Pertahanan AS, David Des Roches, menilai sasaran serangan kemungkinan merupakan sistem peluncur Fajr-5. Sistem tersebut disebut memiliki jangkauan sekitar 75 kilometer dan berpotensi menjangkau jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz.

“Rudal itu mampu menjangkau jalur pelayaran di sana (Selat Hormuz),” kata Roches kepada Al Jazeera.

Roches juga menjelaskan ancaman tidak hanya berasal dari serangan langsung terhadap kapal. Rudal yang membawa ranjau, menurut dia, berpotensi mengganggu perairan yang digunakan kapal-kapal untuk menghindari wilayah yang dinilai berisiko.

“Beberapa kapal melintasi perairan Oman untuk menghindari serangan Iran terhadap kapal sipil netral. Rudal-rudal ini berpotensi menebar ranjau di perairan tersebut,” ucapnya.

Menurut Roches, apabila serangan Iran benar-benar dilancarkan, kondisi jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz berpotensi menjadi kacau. Ia menilai Iran memiliki kemampuan yang cukup besar untuk melakukan tindakan tersebut.

Serangan AS kemudian mendapat respons dari IRGC. Iran menyatakan telah menyerang dua pangkalan militer AS di Yordania, yakni King Hussein dan Al Azraq.

“(Serangan ini) menghancurkan infrastruktur teknis dan perbaikan, serta lokasi penempatan fighter,” demikian keterangan IRGC, seperti dikutip Al Jazeera.

IRGC juga memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan mendapatkan balasan. “Agresi dan kejahatan tidak akan menyelesaikan keputusasaan musuh dalam upaya melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Setiap serangan juga akan menerima balasan yang lebih menghancurkan,” lanjut IRGC.

Saling serang tersebut berlangsung ketika konflik AS dan Iran telah memasuki bulan keenam. Dalam beberapa pekan sebelumnya, pemerintahan Donald Trump lebih banyak mengedepankan tekanan ekonomi ketimbang operasi militer terhadap Iran.

Ketegangan juga berkaitan dengan penguasaan Selat Hormuz. Iran disebut telah memblokir jalur tersebut sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari. Sebelumnya, sekitar seperlima pasokan minyak dunia disebut melewati jalur pelayaran strategis itu.

Sejumlah upaya diplomatik yang melibatkan mediator, termasuk Pakistan dan Qatar, telah berlangsung selama berbulan-bulan. Gencatan senjata sempat disepakati pada April, sedangkan nota kesepahaman menuju perjanjian damai final ditandatangani pada Juni. Namun, kedua negara belum mencapai kesepakatan akhir, terutama terkait persoalan keamanan dan kendali atas Selat Hormuz. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com