Wamenaker Afriansyah Noor mendorong generasi muda menguasai AI, meningkatkan kompetensi, dan berani menciptakan lapangan kerja di tengah perubahan cepat kebutuhan industri.
JAMBI – Sebanyak 19,44 persen pemuda Indonesia usia 15–24 tahun tercatat tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, maupun tidak mengikuti pelatihan. Di tengah perubahan dunia kerja akibat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), generasi muda didorong memperkuat kompetensi agar tidak tertinggal dari kebutuhan industri.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menilai perubahan teknologi harus dijawab dengan peningkatan kemampuan, bukan dengan kekhawatiran terhadap otomatisasi maupun AI. Pesan itu disampaikannya saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Kota Jambi, Sabtu (12/09/2026).
“Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian,” kata Afriansyah, sebagaimana diberitakan Borneoflash, Minggu, (13/09/2026).
Tantangan peningkatan kompetensi tersebut muncul di tengah besarnya pasar tenaga kerja nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026 menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen.
Selain itu, 19,44 persen pemuda berusia 15–24 tahun berada dalam kelompok Not in Employment, Education, or Training (NEET), yakni tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, maupun tidak mengikuti pelatihan.
Menurut Afriansyah, perkembangan AI, otomatisasi, dan teknologi digital telah mengubah pola kerja di berbagai sektor. Kondisi tersebut membuat kemampuan beradaptasi serta kemauan memperbarui keterampilan menjadi semakin penting bagi calon tenaga kerja.
Kesiapan memasuki dunia kerja, menurut dia, juga tidak lagi cukup bertumpu pada ijazah. Kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan kebutuhan industri.
Afriansyah juga mendorong generasi muda mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Penguasaan teknologi dan kompetensi dinilai dapat digunakan tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mengembangkan inovasi dan membuka peluang usaha baru.
Untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalankan sejumlah program peningkatan kompetensi, antara lain Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), Program Magang Nasional melalui MagangHub, Talent and Innovation Hub (TIH), Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia, serta pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).
Program tersebut diarahkan untuk mempersempit kesenjangan antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha maupun industri, terutama ketika digitalisasi semakin mengubah jenis pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan.
Perguruan tinggi juga dipandang memiliki posisi strategis dalam menyiapkan lulusan menghadapi perubahan tersebut. Kampus tidak hanya dituntut memberikan bekal akademik, tetapi juga memperkuat karakter, keterampilan kerja, kemampuan beradaptasi, serta jiwa kewirausahaan mahasiswa.
Keterhubungan antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media dinilai diperlukan untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang mampu menjawab perubahan kebutuhan pasar kerja.
Upaya tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang mendorong pembangunan sumber daya manusia adaptif dan berdaya saing global. Penguasaan AI dan peningkatan kompetensi diharapkan dapat membantu generasi muda tidak sekadar mengikuti perubahan dunia kerja, tetapi juga mengambil peluang dan menciptakan pekerjaan baru. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan