Lebih dari 400 pohon zaitun di lahan Palestina seluas 31 dunam dihancurkan menjelang musim panen, mengancam pendapatan petani dan produksi minyak zaitun dalam jangka panjang.
RAMALLAH – Musim panen yang seharusnya menjadi sumber pendapatan bagi petani Palestina justru berubah menjadi masa kehilangan setelah lebih dari 400 pohon zaitun di lahan seluas sekitar 31 dunam atau 3,1 hektare di Beit Rima, barat laut Ramallah, dihancurkan buldoser militer Israel. Operasi tersebut berlangsung hanya beberapa hari sebelum panen zaitun tahunan dimulai pada awal Oktober.
Kerusakan itu tidak hanya menghilangkan pohon yang siap menghasilkan buah, tetapi juga mengancam sumber pendapatan petani untuk musim-musim berikutnya. Sejumlah pohon yang dicabut bahkan baru ditanam dan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum kembali produktif.
Abd Alfattah Tamimi, salah satu pemilik kebun di Beit Rima, menyaksikan langsung ketika buldoser menghancurkan bagian atas salah satu pohonnya sebelum mencabut seluruh akarnya dari tanah.
“Semua pohon zaitun kami, termasuk yang baru ditanam, tercabut. Begitu juga pohon zaitun tetangga kami, mereka juga mencabut semuanya,” kata Tamimi, menambahkan bahwa dia dan tetangganya memiliki hampir 9 hektar lahan yang dipenuhi pohon zaitun.
“Mereka meninggalkan kami tanpa apa pun,” katanya.
Operasi tersebut dilakukan setelah otoritas Israel menerbitkan perintah militer yang menargetkan dua area lahan di Beit Rima. Berdasarkan laporan yang dikutip sejumlah media, perintah itu menginstruksikan pembersihan vegetasi liar serta pencabutan pohon zaitun dan pohon lainnya.
Data Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina menunjukkan bahwa hingga 22 September 2026 terdapat 51 perintah serupa terkait pembersihan pohon dan vegetasi di Tepi Barat yang berdampak terhadap sekitar 2.093 dunam lahan.
Bagi petani, waktu pelaksanaan operasi menjadi persoalan tersendiri karena panen zaitun secara tradisional dimulai pada pekan pertama Oktober. Aktivis dan petani memperingatkan hasil panen tahun ini berpotensi terganggu akibat meningkatnya serangan pemukim Israel dan operasi militer di sejumlah wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Zaitun memiliki peran penting dalam perekonomian pertanian Palestina. Berdasarkan data Kementerian Pertanian Otoritas Palestina yang dikutip dalam laporan tersebut, sektor pertanian menyumbang sekitar 8 persen Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyediakan lebih dari 60.000 lapangan kerja.
Dampak kehilangan kebun juga dirasakan Nather Tamimi, pemilik lahan di kawasan Deir Nizam dekat Ramallah. Ia mengatakan kebunnya selama ini menghasilkan minyak zaitun dalam jumlah besar bersama saudara-saudaranya dan menjadi sumber produksi bagi keluarga serta lingkungan sekitar.
“Dari lahan ini, saya dan saudara-saudara saya menghasilkan 120 drum minyak zaitun. Tetangga kami juga menghasilkan jumlah yang sama,” kata Tamimi, sambil memandang kebun zaitunnya.
“Mereka mencabut pohon di mana-mana, bahkan di antara rumah-rumah,” katanya.
Dalam sejumlah kasus sebelumnya, pihak militer Israel menyatakan pembersihan lahan dan pencabutan pohon diperlukan untuk mencegah ancaman keamanan atau kemungkinan penyergapan terhadap pasukan. Kelompok hak asasi manusia Palestina menolak alasan tersebut dan menyatakan penghancuran kebun berdampak langsung terhadap pendapatan petani serta akses mereka untuk mengelola lahan.
Kerusakan lahan pertanian itu terjadi bersamaan dengan insiden lain di sekitar Ramallah. Pada Kamis sore, sebuah kendaraan milik Bilal Masalmeh dilaporkan diserang sekelompok pemukim di dekat Turmus Ayya, timur laut Ramallah. Sumber lokal menyebut Masalmeh dan sejumlah pemuda yang berupaya mendatangi lokasi kejadian disemprot menggunakan semprotan merica.
Rangkaian kejadian tersebut menambah tekanan terhadap petani Palestina menjelang musim panen. Hilangnya pohon produktif bukan hanya mengurangi hasil panen tahun ini, tetapi juga berpotensi menghilangkan sumber penghasilan dalam jangka panjang karena pohon zaitun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali menghasilkan secara optimal, sebagaimana diberitakan Arab News, Kamis, (24/09/2026). []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan