Rial Iran Anjlok, 2,5 Juta Rial Kini Setara 1 Dolar AS

Rial Iran menembus rekor terendah 2,5 juta per dolar AS ketika tekanan ekonomi meningkat dan Qatar terus memediasi komunikasi antara Teheran dan Washington.

TEHERAN – Nilai tukar rial Iran menembus level 2,5 juta rial per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar terbuka Teheran pada Selasa (29/09/2026), menandai tekanan baru terhadap perekonomian Iran ketika upaya diplomatik untuk meredakan konflik dengan AS terus berlangsung.

Level tersebut menjadi rekor terendah baru bagi rial. Sebelumnya, mata uang Iran menembus sekitar 2,2 juta rial per dolar pada 2 September 2026. Sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada Februari, nilai tukar dolar di pasar terbuka masih berada di kisaran 1,7 juta rial.

Pelemahan rial berlangsung ketika tekanan terhadap aktivitas ekonomi Iran meningkat akibat konflik, pembatasan perdagangan, serta terganggunya jalur pelayaran dan energi. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi harga barang impor dan daya beli masyarakat di dalam negeri.

Di tengah tekanan ekonomi itu, Qatar terus menjalankan peran sebagai perantara komunikasi antara Teheran dan Washington. Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Qatar Majed al-Ansari mengatakan, “Qatar dan pihak penengah lainnya masih terus menyampaikan pesan antara Iran dan Amerika Serikat, dan Doha akan melanjutkan upaya-upaya tersebut.”

Pernyataan itu disampaikan ketika para mediator membahas kemungkinan jalan keluar untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Upaya tersebut berlangsung di tengah perbedaan antara Iran dan AS mengenai sejumlah isu, termasuk program nuklir Iran dan mekanisme untuk mengakhiri pembatasan di kawasan.

Sebagaimana diberitakan Sindo, Selasa, (29/09/2026), tekanan ekonomi juga menjadi bagian dari dampak konflik yang lebih luas. Gangguan terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz telah memengaruhi arus perdagangan energi, sementara harga minyak dunia tetap mendapat tekanan dari kekhawatiran mengenai pasokan. Sebelum konflik, jalur strategis tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Iran sebelumnya mengajukan proposal yang mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah langkah dari Washington, termasuk pengurangan tekanan ekonomi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembahasan melalui mediator Qatar terus dilakukan dan Teheran menunggu tanggapan resmi AS.

Sementara itu, kondisi ekonomi yang memburuk mulai dirasakan dalam aktivitas perdagangan domestik. Laporan dari Teheran menunjukkan sebagian warga meningkatkan pembelian kebutuhan pokok dan obat-obatan karena khawatir harga terus meningkat atau pasokan terganggu. Pelemahan rial menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga barang impor.

Tekanan terhadap perekonomian Iran juga berlangsung bersamaan dengan terganggunya perdagangan energi regional. Data yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak dari sejumlah produsen utama Timur Tengah pada September meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, tetapi volumenya masih berada di bawah tingkat sebelum konflik.

Di sisi diplomatik, Qatar bersama mediator lainnya masih berupaya menjaga jalur komunikasi Iran-AS tetap terbuka. Perkembangan tersebut menjadi penting bagi stabilitas pasar energi sekaligus kondisi ekonomi Iran karena penyelesaian konflik berhubungan erat dengan pembukaan kembali jalur perdagangan dan pengurangan tekanan terhadap perekonomian.

Pelemahan rial hingga melewati 2,5 juta per dolar dengan demikian menjadi salah satu indikator tekanan ekonomi yang berlangsung ketika konflik memasuki fase diplomatik yang belum menghasilkan kesepakatan final. Pergerakan nilai tukar selanjutnya akan sangat terkait dengan perkembangan konflik, akses perdagangan, serta hasil komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *