Longsor yang dipicu cuaca ekstrem di Desa Sangkanayu menewaskan satu warga dan melukai satu lainnya, memicu imbauan peningkatan kewaspadaan.
JAWA TENGAH – Ancaman cuaca ekstrem kembali memicu bencana di wilayah Kabupaten Purbalingga (Purbalingga), Jawa Tengah (Jateng), setelah longsor tanah dan batu menimpa permukiman warga di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Minggu (12/04/2026), mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka serius.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 09.55 WIB di RT 14 RW 5 Dusun Tambleg Pondokangka itu menyoroti pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana yang masih tinggi di tengah kondisi cuaca tidak menentu. Material batu besar yang jatuh dari tebing menghantam bagian dapur rumah warga saat korban berada di dalam bangunan.
“Batu besar yang jatuh dari tebing itu langsung menimpa area dapur saat para korban sedang berada di dalam rumah,” kata Kepala Desa (Kades) Sangkanayu Ali Nur Setiawan.
Akibat kejadian tersebut, seorang warga bernama Yanti (37) meninggal dunia di lokasi, sementara Kasini (34) mengalami luka serius. Warga bersama perangkat desa segera melakukan evakuasi dari reruntuhan bangunan yang terdampak.
“Kami bersama warga berhasil melakukan proses evakuasi di area reruntuhan bangunan dapur tersebut,” ujarnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga Revon Haprindiat menyatakan pihaknya langsung turun tangan membantu proses evakuasi serta penanganan korban.
“Kami membantu proses evakuasi dan membawa korban ke rumah sakit,” kata Revon sebagaimana dilansir Antara, Minggu, (12/04/2026).
Korban selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bobotsari untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan. BPBD Purbalingga juga terus mengintensifkan upaya mitigasi melalui penguatan program Desa Tangguh Bencana (Destana) guna meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi potensi bencana serupa.
“Masyarakat tetap tenang dan waspada dengan berbagai kemungkinan. Manakala terjadi cuaca lebih ekstrem, masyarakat diharapkan dapat mempersiapkan diri dan melakukan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan,” ungkap Revon.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah rawan longsor memerlukan perhatian serius, terutama dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut. Peningkatan kesiapsiagaan berbasis komunitas diharapkan mampu meminimalkan risiko korban jiwa di masa mendatang. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan