Perundingan tingkat tinggi pertama dalam satu dekade antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai, memicu saling tuding dan memperpanjang ketegangan global.
ISLAMABAD – Upaya menghentikan konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah perundingan maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan damai pada Minggu (12/04/2026).
Kegagalan tersebut terjadi meskipun kedua negara telah memasuki tahap dialog tingkat tinggi pertama dalam lebih dari satu dekade, yang digelar pascagencatan senjata awal pekan ini. Seluruh delegasi dari kedua pihak dilaporkan telah meninggalkan Islamabad tanpa membawa hasil konkret untuk mengakhiri konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa dan memicu lonjakan harga minyak global.
Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance yang memimpin delegasi AS menegaskan bahwa negosiasi tidak mencapai titik temu karena Iran menolak sejumlah syarat utama yang diajukan Washington.
“Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi Amerika Serikat,” kata Vance kepada wartawan sebelum meninggalkan Islamabad, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (12/04/2026).
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menetapkan batasan yang jelas dalam perundingan tersebut. “Jadi kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami,” lanjutnya.
Menurut Vance, salah satu tuntutan utama AS adalah komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun perangkat yang memungkinkan percepatan pengembangan senjata tersebut.
“Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir dan tidak akan mengejar alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir. Itulah tujuan utama Presiden AS, dan itulah yang kami coba capai melalui negosiasi ini,” tuturnya.
Di sisi lain, Pemerintah Iran menilai kegagalan perundingan tidak terlepas dari rendahnya tingkat kepercayaan antar kedua negara serta tuntutan AS yang dinilai berlebihan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran menyatakan bahwa proses dialog berlangsung dalam suasana penuh ketidakpercayaan sehingga sulit mencapai kesepakatan dalam satu pertemuan.
“Wajar jika kita tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan hanya dalam satu sesi,” kata juru bicara tersebut, seperti dikutip media Iran.
Sementara itu, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran menuding ambisi AS menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Seorang koresponden Tasnim melaporkan bahwa intervensi dan tuntutan Washington menghambat pembentukan kerangka kerja bersama.
“Negosiasi antara tim Iran dan Amerika berakhir beberapa menit yang lalu dan, karena apa yang digambarkan sebagai campur tangan dan ambisi AS yang berlebihan, kedua pihak sejauh ini gagal mencapai kesepakatan,” lapor koresponden tersebut dari Islamabad, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu (12/04/2026).
Meski demikian, sejumlah laporan media Iran menyebutkan bahwa kedua pihak sempat mencapai titik temu pada beberapa isu. Namun, perbedaan tajam masih terjadi terkait Selat Hormuz dan program nuklir Iran yang menjadi pokok sengketa utama.
Kegagalan ini menandai belum adanya kepastian berakhirnya konflik, sekaligus memperpanjang ketidakstabilan geopolitik yang berdampak luas, termasuk terhadap pasar energi global. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan