Manuver Politik! Oposisi Taiwan Bertemu Xi Jinping Setelah 10 Tahun

Kunjungan pemimpin oposisi Taiwan ke China memicu polemik di tengah ketegangan geopolitik dan isu pertahanan kawasan.

BEIJING – Rencana kunjungan pemimpin oposisi Taiwan ke China memicu kekhawatiran politik dan keamanan di dalam negeri, menyusul dugaan adanya kepentingan strategis Beijing untuk memengaruhi arah kebijakan pertahanan Taiwan.

Pemimpin partai oposisi utama Taiwan, Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada Selasa 7 April 2026 atas undangan Presiden China Xi Jinping. Kunjungan ini menjadi yang pertama dalam satu dekade oleh Ketua KMT, sekaligus menandai dinamika baru hubungan lintas Selat Taiwan.

Langkah tersebut menuai beragam respons di Taiwan. Sejumlah pejabat dan pakar menilai kunjungan ini berpotensi dimanfaatkan Beijing untuk memperkuat posisi politik Cheng di internal partainya sekaligus memengaruhi kebijakan Taiwan terkait pembelian senjata dari Amerika Serikat (AS).

Mengutip AFP, Cheng menyatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan membangun “perdamaian” lintas selat. Namun, sejumlah pihak meragukan motif tersebut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan.

KMT selama ini dikenal mendorong pendekatan yang lebih lunak terhadap Beijing, sebagai upaya menjaga stabilitas hubungan dengan China yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Di sisi lain, dinamika internal KMT juga tengah memanas. Cheng, yang baru memimpin partai tersebut, menghadapi kritik dari sejumlah politisi Taiwan, termasuk dari internal KMT, karena dianggap terlalu pro-China.

Tekanan politik juga datang dari Amerika Serikat sebagai pendukung keamanan utama Taiwan. Washington mendorong parlemen Taiwan untuk menyetujui paket pembelian senjata bernilai miliaran dolar guna memperkuat pertahanan menghadapi potensi ancaman militer China.

Cheng sendiri diketahui mendukung alokasi anggaran besar untuk pembelian senjata AS, meski di internal KMT terdapat perbedaan pandangan, dengan sejumlah tokoh senior mendorong anggaran yang lebih besar.

Mantan penasihat KMT, Albert Tzeng, menilai kunjungan ini memiliki dimensi politik yang lebih luas.

“Beijing melihat “kebutuhan untuk menyelamatkan Cheng Li-wun” dari “krisis kekuasaan”,” kata Tzeng kepada AFP, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu, (05/04/2026).

Ia menambahkan, dukungan dari Xi Jinping dapat membuat lawan politik Cheng lebih berhati-hati dalam melakukan serangan politik.

“Dan Xi, yang telah mengaitkan penguasaan Taiwan dengan visinya tentang “kebangkitan besar bangsa Tiongkok”, dapat menunjukkan bahwa Beijing “tidak sepenuhnya kehilangan Taiwan kepada Amerika Serikat”,” katanya.

Sementara itu, Badan intelijen tertinggi Taiwan memperingatkan adanya upaya Beijing untuk memengaruhi kebijakan strategis Taiwan, termasuk dalam hal kerja sama militer dengan negara lain.

Juru bicara Dewan Urusan Daratan Taiwan, Liang Wen-chieh, menegaskan kekhawatiran tersebut.

“Singkatnya, niat Beijing adalah untuk menginternalisasi masalah lintas selat, memperlakukannya sebagai masalah domestik bagi China, dengan intervensi asing dilarang,” kata Liang.

Menanggapi berbagai spekulasi, Cheng membantah bahwa kunjungan ini berkaitan dengan isu pengadaan senjata.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama perjalanan tersebut adalah menjaga stabilitas hubungan lintas selat.

Perkembangan ini mencerminkan kompleksitas politik Taiwan yang berada di tengah tarik-menarik kepentingan global, sekaligus menandai babak baru dalam dinamika hubungan Taiwan-China yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com