PONTIANAK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) versi Ramadan di Kalimantan Barat mendadak jadi sorotan. Sejumlah orang tua penerima manfaat mengaku terkejut dengan paket makanan yang dibagikan untuk konsumsi tiga hari. Menu yang diterima dinilai terlalu sederhana dan jauh dari ekspektasi program peningkatan gizi anak sekolah.
Keluhan paling ramai datang dari Kabupaten Kayong Utara. Maria, wali murid dari dapur MBG Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, mengaku kecewa setelah melihat isi paket yang dibawa pulang anaknya.
“Untuk jatah tiga hari hanya diberi tiga telur rebus, tiga potong bolu, dan tiga kurma. Kalau disebut makan bergizi, tentu kami berharap komposisinya lebih lengkap,” ujarnya, Senin (23/02/2026).
Menurutnya, paket tersebut sulit dianggap cukup untuk menunjang kebutuhan nutrisi anak, apalagi program MBG disebut-sebut sebagai upaya strategis pemerintah dalam memperbaiki kualitas gizi pelajar.
Suara serupa muncul dari Wiwin, orang tua siswa penerima manfaat di Dapur Sukamaju, Teluk Batang. Ia menilai perlu ada keterbukaan terkait besaran anggaran per anak.
“Isi paketnya satu roti, susu 200 ml, sebungkus kacang polong, tiga kurma, dan dua telur rebus untuk tiga hari. Kami ingin tahu alokasi dan standar yang digunakan agar jelas,” katanya.
Tak hanya di Kayong Utara, keluhan juga terdengar dari wilayah lain. Rina, wali murid di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, menyebut anaknya menerima paket berisi jagung, telur, dan susu. “Kami mendukung programnya, tapi kualitas menu perlu diperhatikan supaya benar-benar sesuai tujuan,” tuturnya.
Ahmad, orang tua siswa di Pontianak Timur, Kota Pontianak, berharap ada keseragaman standar menu antarwilayah. “Kalau ini program nasional, mestinya standar gizinya sama di setiap dapur. Jangan sampai ada perbedaan yang mencolok,” ucapnya.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Program MBG Regional Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menjelaskan bahwa menu selama Ramadan memang berbeda dari hari biasa. Ia menegaskan pembagian makanan kering telah sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) selama bulan puasa.
“Pada Ramadan, menu yang dibagikan berupa makanan kering seperti telur, roti, kurma, buah, atau makanan lokal sejenis. Tidak dianjurkan makanan yang mudah basi atau bercita rasa tajam,” jelas Agus saat dikonfirmasi.
Ia memastikan komposisi tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang serta memperhatikan keamanan pangan, termasuk pengecekan kedaluwarsa dan legalitas produk seperti izin PIRT. Produk ultra-processed food (UPF) disebut tidak dijadikan menu utama. “Kami menghindari makanan ultra-proses sebagai menu utama. Prinsipnya tetap aman dikonsumsi saat berbuka dan memenuhi standar gizi,” tegasnya.
Distribusi paket dilakukan pada pagi hari, lalu dibawa pulang siswa untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Pihaknya berkomitmen melakukan evaluasi berkala guna memastikan pelaksanaan di lapangan sesuai standar dan harapan masyarakat.
Program MBG sendiri merupakan program prioritas nasional yang ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan perlunya komunikasi yang lebih intens agar pemahaman masyarakat terhadap skema Ramadan tidak menimbulkan kesalahpahaman. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan