Kapsul Orion dalam misi Artemis II memasuki fase dominasi gravitasi Bulan dan mencetak rekor perjalanan manusia terjauh dari Bumi.
WASHINGTON – Misi penjelajahan Bulan melalui program NASA memasuki fase krusial ketika pesawat ruang angkasa Orion yang membawa kru Artemis II mission mulai berada di bawah dominasi gravitasi Bulan, menandai titik balik perjalanan manusia menuju orbit satelit alami Bumi setelah lebih dari lima dekade.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (06/04/2026) sekitar pukul 11.42 WIB, saat kapsul Orion memasuki apa yang disebut sebagai lingkup pengaruh Bulan. Pada fase ini, gaya tarik gravitasi Bulan menjadi lebih dominan dibandingkan Bumi, sehingga mengarahkan jalur pesawat untuk mengelilingi Bulan.
Kru yang terdiri dari empat astronaut, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, kini berada sekitar 63.000 kilometer dari Bulan dan sekitar 372.000 kilometer dari Bumi. Mereka dijadwalkan mengorbit Bulan tanpa melakukan pendaratan, sekaligus mencetak rekor sebagai manusia yang melakukan perjalanan terjauh dari Bumi.
Misi ini tidak hanya berfokus pada pencapaian teknis, tetapi juga mencatat tonggak sejarah baru dalam keberagaman kru. Victor Glover menjadi orang kulit berwarna pertama yang mengelilingi Bulan, Christina Koch menjadi perempuan pertama dalam misi tersebut, sementara Jeremy Hansen tercatat sebagai astronaut non-Amerika pertama yang mencapai orbit Bulan.
Selama penerbangan, para astronaut akan mendokumentasikan kondisi permukaan Bulan dan ruang angkasa sebagai bagian dari persiapan misi lanjutan. Tahapan ini menjadi fondasi penting sebelum pendaratan manusia di wilayah Kutub Selatan Bulan pada misi berikutnya.
Misi Artemis II sendiri diluncurkan dari Kennedy Space Center, Florida, pada Rabu 1 April 2026, menggunakan roket Space Launch System (SLS) yang membawa kapsul Orion. Ekspedisi ini berlangsung selama 10 hari dengan jarak tempuh mencapai 406.000 kilometer.
Pencapaian tersebut melampaui rekor sebelumnya yang dipegang kru Apollo 13 pada 1970, yang menempuh jarak sekitar 400.000 kilometer. Meskipun tidak melakukan pendaratan, misi ini menjadi simulasi penting sebelum manusia kembali menginjakkan kaki di Bulan, terakhir kali terjadi melalui Apollo 17 pada 1972. Sebagaimana diwartakan Kompas, Senin, (06/04/2026), fase ini disebut sebagai momen penentu dalam perjalanan menuju orbit Bulan karena perubahan dominasi gravitasi yang dialami pesawat.
Keberhasilan tahap ini menjadi indikator kesiapan teknologi dan manusia dalam menghadapi misi eksplorasi ruang angkasa berikutnya, sekaligus membuka peluang baru bagi eksplorasi lebih jauh di masa depan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan