GAMBAR ILUSTRASI

Musim Kering Datang Lebih Cepat, Karhutla Banjarbaru Menggila

Lonjakan kasus karhutla sejak awal 2026 dan ancaman kemarau panjang mendorong Banjarbaru bersiap menetapkan status siaga.

BANJARBARU– Peningkatan jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru (Banjarbaru) sejak awal 2026 mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru mengusulkan penetapan status siaga, menyusul potensi kemarau panjang yang diprediksi lebih kering dari biasanya.

Data BPBD Banjarbaru mencatat sedikitnya 25 kejadian karhutla terjadi sepanjang Januari hingga Maret 2026 dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 3,3 hingga 3,8 hektare. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal awal meningkatnya risiko bencana, khususnya di wilayah rawan seperti Kecamatan Cempaka dan Sungai Tiung yang mulai menunjukkan pola kebakaran berulang.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarbaru, Harun Arrasyid, mengungkapkan bahwa karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar menjadi faktor utama. Ia juga menekankan adanya kecenderungan peningkatan intensitas kejadian. “pola kejadian saat ini menunjukkan adanya peningkatan intensitas, sehingga pihaknya memberikan rekomendasi untuk menuju penetapan status siaga karhutla,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Banjarbaru Post, Senin, (13/04/2026).

Selain faktor alam, aktivitas manusia juga dinilai turut memperbesar potensi munculnya titik api. Jika tidak dikendalikan, kebakaran berisiko meluas hingga ke kawasan permukiman dan memicu dampak lanjutan berupa kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Banjarbaru diperkirakan datang lebih awal, yakni pada akhir April atau awal Mei 2026. Kondisi ini diperparah dengan potensi siklus El Nino yang diprediksi kembali terjadi, sehingga menyebabkan cuaca lebih kering dan durasi kemarau lebih panjang hingga akhir tahun.

Mengantisipasi hal tersebut, BPBD Banjarbaru memperkuat langkah pencegahan melalui patroli rutin di wilayah rawan dan pemantauan titik panas (hotspot). Selain itu, kesiapan sarana prasarana juga ditingkatkan, termasuk memastikan pompa air, tandon, serta peralatan penanggulangan dalam kondisi siap digunakan.

Koordinasi lintas instansi turut diperkuat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat melalui pemasangan spanduk peringatan dan edukasi larangan pembakaran lahan secara sengaja.

Upaya pengendalian juga mencakup pembangunan sekat bakar serta pengelolaan kanal air untuk menekan potensi penyebaran api. Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar guna mencegah meluasnya karhutla di tengah ancaman musim kemarau yang diprediksi lebih ekstrem tahun ini. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com