Perang Data Dimulai, AI China Diduga Bantu Iran Bidik Pangkalan AS

Pemanfaatan citra satelit berbasis AI memunculkan dimensi baru dalam konflik Iran, dengan dugaan keterlibatan teknologi China dalam penentuan target militer.

TEL AVIV – Perang teknologi berbasis data menjadi dimensi baru dalam konflik Iran, setelah komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkap dugaan pemanfaatan citra satelit berbasis kecerdasan buatan untuk membantu penentuan target militer di Timur Tengah.

Informasi tersebut mengemuka dari sumber internal pertahanan AS yang menyebut perusahaan teknologi asal China, MizarVision, diduga menyediakan citra satelit yang telah ditingkatkan dengan teknologi artificial intelligence (AI). Data tersebut menampilkan lokasi pangkalan militer AS secara detail sehingga memudahkan identifikasi sasaran dalam konflik yang sedang berlangsung.

Sumber dari Badan Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency/DIA) AS menilai distribusi data tersebut berisiko tinggi terhadap keselamatan personel militer. “Ini adalah contoh perusahaan China, yang kami yakini dengan niat jahat, menyediakan intelijen pada platform sumber terbuka yang memberikan informasi tentang protokol penargetan rudal dan pesawat tanpa awak [drone],” ujar sumber tersebut. “Ini membahayakan nyawa warga Amerika, dan secara tidak langsung sekutu kami,” sebagaimana diberitakan Sindonews, Senin (06/04/2026).

Menurut DIA, citra yang dipublikasikan tidak hanya memperlihatkan lokasi pangkalan, tetapi juga mengidentifikasi jenis pesawat, posisi kapal angkatan laut, sistem pertahanan udara, hingga radar. Kemampuan analisis berbasis AI ini sebelumnya hanya dimiliki lembaga intelijen negara.

Pentagon menduga Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran memanfaatkan data tersebut untuk meningkatkan akurasi serangan terhadap target militer. “Kami tahu bahwa materi tersebut dipantau oleh musuh kami di dalam IRGC, dan ini akan membantu prioritas berbasis aset mereka untuk sistem rudal dan drone,” kata sumber DIA.

Dugaan tersebut diperkuat dengan publikasi citra Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi oleh MizarVision menjelang pecahnya konflik. Pada 24 Februari, perusahaan itu merilis lokasi sistem pertahanan udara Patriot, disusul citra lain pada 27 Februari yang memperlihatkan posisi puluhan pesawat di pangkalan tersebut.

Kurang dari 48 jam setelah publikasi itu, serangan balasan Iran dilaporkan menghantam fasilitas tersebut dan mengakibatkan korban di pihak militer AS. Peristiwa ini memperkuat dugaan bahwa data terbuka berbasis AI berkontribusi dalam proses penargetan militer.

Komite Pilihan bipartisan tentang Partai Komunis China (Chinese Communist Party/CCP) di Kongres AS turut menyoroti hal ini. Mereka menyebut teknologi AI yang dikembangkan perusahaan terkait China berpotensi menjadi ancaman nyata di medan perang modern. “Perusahaan yang terkait dengan Partai Komunis China (CCP) mengubah AI menjadi alat pengawasan medan perang melawan Amerika,” demikian pernyataan komite tersebut.

Sementara itu, pemerintah China membantah tudingan tersebut. Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan nasionalnya beroperasi sesuai hukum dan hanya memanfaatkan data sumber terbuka. “Dipahami bahwa citra satelit yang dirilis oleh perusahaan-perusahaan terkait diperoleh dari saluran sumber terbuka dan merupakan praktik pasar rutin,” kata kementerian tersebut. “Sejak pecahnya permusuhan di Iran, entitas-entitas tertentu telah berupaya untuk secara jahat menghubungkan konflik tersebut dengan China untuk tujuan sensasionalis, sebuah praktik yang ditentang keras oleh China,” imbuhnya.

Pakar keamanan dari Program Studi Kebijakan Keamanan di Elliott School of International Affairs, Michael Dahm, menilai pola distribusi data secara gratis oleh perusahaan tersebut menimbulkan tanda tanya. “Perusahaan-perusahaan ini berbisnis untuk menghasilkan uang, dan memberikan sesuatu secara gratis adalah model bisnis yang buruk,” katanya. “Jika pemberian citra secara gratis terus berlanjut untuk jangka waktu tertentu, saya menduga ada pihak yang membiayai terus berlanjutnya rilis publik tersebut,” paparnya. “Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa pemerintah atau militer China berada di balik rilis publik citra satelit komersial, untuk membentuk narasi strategis dalam konflik dan berpotensi menghambat pengerahan pasukan.”

Di sisi lain, perusahaan penyedia citra satelit global seperti Planet Labs menyatakan pemerintah AS telah meminta pembatasan distribusi citra wilayah konflik. Kebijakan ini diambil untuk mencegah penyalahgunaan data visual yang dapat meningkatkan risiko serangan terhadap aset militer.

Selain aspek militer, keterlibatan China dalam konflik ini juga berkaitan dengan kepentingan energi. Sebelum konflik memanas, China diketahui menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran, yang mencapai sekitar 1,38 juta barel per hari.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, tetapi juga bergeser pada pemanfaatan teknologi data dan kecerdasan buatan yang dapat menentukan arah dan dampak konflik secara signifikan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com