gambar ilustrasi

Peringatan BMKG Diabaikan, Risiko Kecelakaan Laut di Kaltara Meningkat

Kantor SAR Tarakan menyoroti masih adanya pelayaran yang mengabaikan peringatan cuaca, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan laut di perairan Kaltara.

TARAKAN – Peringatan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dinilai masih kerap diabaikan oleh pelaku pelayaran di Kalimantan Utara (Kaltara), sehingga meningkatkan risiko kecelakaan laut. Kondisi ini menjadi perhatian Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tarakan setelah pelaksanaan Siaga SAR Khusus Lebaran yang mencatat sejumlah insiden di perairan.

Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril, menegaskan bahwa aspek keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama sebelum pelayaran dilakukan, terutama saat cuaca tidak bersahabat.

“Peringatan dari BMKG itu sebenarnya sudah jelas. Tapi di lapangan masih ada yang tetap berangkat, padahal kondisi tidak memungkinkan,” ujarnya, sebagaimana dilansir Headlinews, Jumat (10/04/2026).

Menurutnya, keputusan untuk tetap melaut di tengah cuaca buruk tidak hanya membahayakan penumpang, tetapi juga menyulitkan tim SAR saat melakukan operasi pencarian dan pertolongan. “Kalau sudah diingatkan tapi tetap jalan, risikonya pasti lebih besar. Tim di lapangan juga menghadapi kondisi yang sama beratnya saat melakukan pencarian,” katanya.

Selain faktor kelalaian, karakteristik perairan Kaltara turut menjadi tantangan tersendiri. Syahril menjelaskan bahwa arus laut di sejumlah wilayah, seperti Bunyu, dapat berubah dengan cepat dan sulit diprediksi.

“Di perairan seperti Bunyu, arusnya bisa berubah cepat. Ada pertemuan arus yang membuat situasi di laut jadi tidak menentu,” jelasnya.

Selama masa Siaga SAR Khusus Lebaran, SAR Tarakan mencatat dua kejadian kecelakaan laut di wilayah perairan. Seluruh korban berhasil ditemukan, meskipun salah satu proses pencarian memerlukan waktu lebih lama dari standar operasi yang umumnya berlangsung hingga tujuh hari.

“Jumlah kasus tidak banyak, tapi ada yang membutuhkan waktu lebih panjang sampai korban ditemukan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, meski terdapat batas waktu operasi, pencarian tetap dapat dilanjutkan apabila masih terdapat peluang dan informasi baru di lapangan. “Secara aturan memang ada batas waktu, tapi kalau masih ada peluang dan informasi berkembang, pencarian tetap dilanjutkan,” ujarnya.

Dalam setiap operasi, SAR Tarakan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta fasilitas kesehatan untuk proses identifikasi korban sebelum diserahkan kepada keluarga.

“Koordinasi lintas instansi tetap dilakukan, terutama untuk identifikasi korban,” katanya.

Selain itu, operasi pencarian juga melibatkan penggunaan peralatan seperti kapal cepat dan alat deteksi bawah air guna mempercepat proses evakuasi.

“Semua unsur turun bersama. Peralatan juga dimaksimalkan untuk mempercepat proses pencarian,” jelasnya.

Sementara itu, pemantauan di jalur darat selama arus mudik dan balik Lebaran berlangsung kondusif tanpa adanya kejadian menonjol. Namun, pihak SAR tetap mengingatkan seluruh pelaku perjalanan laut untuk mematuhi peringatan cuaca guna meminimalkan potensi kecelakaan di Kaltara. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com