Kesepakatan gencatan senjata AS dan Iran disebut dipengaruhi tekanan geopolitik, risiko krisis energi, dan dinamika politik domestik di Amerika.
WASHINGTON – Kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama dua pekan dinilai tidak semata hasil keberhasilan militer, melainkan dipengaruhi tekanan geopolitik dan domestik yang dihadapi Presiden AS Donald Trump di tengah eskalasi konflik sejak akhir Februari 2026.
Gencatan senjata yang diumumkan pada Rabu (08/04/2026) itu tercapai setelah Trump menyetujui penundaan serangan lanjutan terhadap Iran, sementara Teheran bersedia membuka akses Selat Hormuz dan memulai perundingan damai. Kesepakatan ini juga didasarkan pada penerimaan AS terhadap 10 poin tuntutan Iran sebagai kerangka awal negosiasi.
“Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah,” tulis Trump di media sosialnya.
“Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan menilai itu sebagai dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi,” ujarnya menambahkan sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu, (08/04/2026).
Namun di balik klaim tersebut, sejumlah analis menilai keputusan Trump menerima kesepakatan justru menunjukkan keterbatasan opsi yang dimiliki AS. Tekanan internasional, potensi krisis energi global, hingga dinamika politik dalam negeri disebut menjadi faktor utama di balik langkah tersebut.
Pakar kebijakan luar negeri Iran dari Quincy Institute, Trita Parsi, dalam wawancara dengan Al Jazeera, menilai eskalasi konflik berisiko besar terhadap stabilitas politik Trump sendiri.
“Ia sebelumnya melontarkan ancaman eskalasi, tetapi semua pihak di kawasan tahu bahwa jika Anda menyerang sumber energi dan pembangkit listrik Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Arab, dan kita akan menghadapi krisis energi yang jauh lebih buruk dari sekarang,” kata Parsi.
Menurut Parsi, perang yang meluas antara AS, Israel, dan Iran berpotensi “menghancurkan kepresidenan Trump,” sehingga gencatan senjata menjadi jalan keluar paling realistis di tengah tekanan yang kian meningkat.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran. Ketegangan ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait gangguan pasokan energi dunia jika Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak ditutup.
Di sisi lain, Trump juga menghadapi tekanan politik domestik, termasuk tuduhan penyalahgunaan wewenang karena melancarkan operasi militer tanpa persetujuan luas dari Kongres Amerika Serikat (AS). Meski pimpinan parlemen menyebut sebagian anggota telah diberi informasi, kritik tetap menguat dan bahkan memicu kembali wacana pemakzulan.
“Ia perlu keluar dari situasi ini. Ancaman-ancaman yang ia sampaikan sebelumnya bertujuan memberi kesan bahwa kesepakatan yang dicapai pada akhirnya merupakan hasil dari tekanannya,” ucap Parsi.
“Namun jika dilihat lebih dekat, tampaknya tidak demikian. Bahkan dalam pernyataannya sendiri disebutkan bahwa negosiasi akan didasarkan pada rencana 10 poin dari pihak Iran, yang justru merupakan proposal yang lebih rasional,” ujarnya menambahkan.
Meski kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan atas kesepakatan ini, sejumlah pengamat menilai gencatan senjata lebih mencerminkan kompromi strategis untuk meredakan tekanan ketimbang hasil dominasi salah satu pihak. Ke depan, keberlanjutan perdamaian akan sangat bergantung pada hasil perundingan lanjutan yang tengah dipersiapkan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan