Ziarah Berujung Maut, Sigra Dihantam KA di Grobogan

JAWA TENGAH – Perjalanan ziarah tiga pria asal Kabupaten Jepara berakhir tragis setelah mobil Daihatsu Sigra yang mereka tumpangi tertabrak KA Pandalungan di perlintasan kereta api manual Desa Medani, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Selasa (24/02/2026). Seluruh penumpang mobil tersebut dinyatakan meninggal dunia.

Insiden maut itu sempat menyisakan tanda tanya karena pada proses evakuasi awal, jumlah korban belum terdata lengkap. Fakta mengejutkan baru terungkap keesokan harinya, Rabu (25/02/2026), setelah keluarga korban mendatangi kantor polisi dan melaporkan bahwa mobil tersebut berisi tiga orang.

Plt Kasi Humas Polres Grobogan, Arif Suryanto, menjelaskan bahwa seluruh korban berjenis kelamin laki-laki dan masih memiliki hubungan keluarga.

“Korban kecelakaan kereta api seluruhnya laki-laki. Total ada tiga orang. Saat evakuasi awal, satu korban belum ditemukan di lokasi,” ungkap Arif, Rabu (25/02/2026).

Ia menambahkan, korban ketiga ditemukan sekitar pukul 07.30 WIB setelah dilakukan pencarian lanjutan.

“Pagi sekitar pukul 07.30 WIB korban berhasil ditemukan. Pencarian dilakukan kembali setelah keluarga datang ke Polsek dan menyampaikan bahwa mereka berangkat bertiga,” jelasnya.

Data kepolisian mencatat, pengemudi mobil bernama Endri Prasetiyo (41), warga Desa Bantrung, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Dua penumpang lainnya adalah Muhammad Rifqi Rahardian (41), warga Desa Bulungan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, serta Hany Puji Sulistyo (34), warga Desa Pengkol, Kecamatan Jepara.

Menurut Arif, ketiganya diketahui masih memiliki hubungan kekerabatan dan tengah dalam perjalanan untuk berziarah. Dugaan sementara, mereka mengikuti petunjuk arah dari aplikasi navigasi digital hingga melintasi perlintasan kereta api manual tersebut.

“Mereka masih saudara dan hendak ziarah. Informasi awal, perjalanan mengikuti navigasi Google Maps dan kemungkinan tersasar hingga melintasi jalur itu,” terangnya.

Perlintasan tempat kejadian diketahui merupakan perlintasan manual tanpa palang pintu otomatis. Polisi masih melakukan pendalaman terkait kronologi lengkap kecelakaan, termasuk faktor keselamatan di lokasi kejadian.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat keras akan bahaya melintas di perlintasan sebidang tanpa penjagaan maksimal, terlebih ketika hanya mengandalkan petunjuk aplikasi navigasi tanpa memastikan kondisi sekitar secara langsung. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com