PASER – Kinerja Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten Paser dalam mengembangkan ayam petelur kini menjadi sorotan nasional. Strategi pengelolaan dan pendampingan peternak di daerah ini dijadikan studi tiru oleh Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kota Bontang, untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian produksi unggas di Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Al Habib, menjelaskan bahwa pengembangan ayam petelur merupakan prioritas pemerintah daerah untuk menjaga pasokan telur, menstabilkan harga, dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal. “Pembangunan pabrik pakan lokal dan proses hilirisasi bahan baku pakan menjadi solusi strategis. Dengan hilirisasi, sebagian proses produksi dapat dilakukan di daerah sendiri sehingga ketergantungan pasokan luar berkurang dan harga telur lebih terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi peternak adalah kelangkaan bahan baku pakan. Sebagian besar pakan masih didatangkan dari luar daerah, khususnya Kalimantan Selatan, sehingga biaya produksi membengkak. Pakan menyumbang sekitar 70 persen dari total biaya produksi, yang berimbas pada harga ayam potong dan telur yang relatif tinggi di Kalimantan Timur.
Langkah hilirisasi telah memasuki tahap pembangunan (groundbreaking) dengan dukungan PTPN, termasuk fasilitas pembibitan dan pabrik pakan terintegrasi. Strategi ini menegaskan bahwa program Disbunak Paser bukan sekadar program lokal, tetapi bagian dari ekosistem nasional untuk memperkuat ketahanan protein dan kemandirian produksi unggas.
Pengelolaan ayam petelur dilakukan secara profesional melalui UPTD Pembibitan dan Perawatan Ternak, mulai dari manajemen kandang, pengaturan pakan, hingga pengendalian penyakit. Sementara pengembangan ayam potong dikelola melalui sistem closed house di BUMDes Desa Klempang Sari, yang mampu menekan angka kematian ayam sekaligus meningkatkan produktivitas. Program ini menjadi bukti keberhasilan modernisasi peternakan tingkat desa yang dijalankan pemerintah kabupaten melalui BUMDes.
Keberhasilan Disbunak Paser menarik perhatian Pemerintah Kota Bontang. Rombongan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kota Bontang melakukan kunjungan pada awal Februari 2026 untuk mempelajari strategi yang telah diterapkan di Paser. Kota Bontang berencana mengadopsi pendekatan Analisis, Tiru, dan Modifikasi (ATM) sesuai kondisi wilayah mereka.
Dengan inovasi hilirisasi, modernisasi UPTD, dan penguatan BUMDes, Disbunak Paser menegaskan perannya sebagai motor penggerak ketahanan pangan, kemandirian produksi unggas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan ini sekaligus menjadikan Kabupaten Paser sebagai rujukan nasional bagi daerah lain yang ingin mengembangkan produksi ayam petelur dan memperkuat sistem pangan lokal. []
Penulis: Darwanti | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan