Jungle Tracking Tanaq Ulen Jadi Daya Tarik Wisata Batu Majang di Mahulu

MAHAKAM ULU – Kampung Batu Majang terus mengembangkan konsep ekowisata berbasis alam dan budaya melalui destinasi Tanaq Ulen, yang menawarkan pengalaman jungle tracking di kawasan hutan adat. Model pariwisata minat khusus ini dinilai mampu menarik wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman autentik di tengah alam tropis Kalimantan.

Sekretaris Kampung Batu Majang, Dedi, menjelaskan desa wisata tersebut mengusung konsep ekowisata yang menyeimbangkan kepentingan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan budaya lokal. “Kalau terkait desa wisata Batu Majang di kita ini mengadopsi ekowisata. Jadi wisata yang kita kembangkan adalah wisata minat khusus,” ujar Dedi, Kamis (12/02/2026) lalu.

Kampung wisata Batu Majang didominasi oleh masyarakat suku Dayak Kenyah. Tradisi dan adat istiadat masih dijaga kuat dalam kehidupan sehari-hari. Secara geografis, kampung ini berada di tepi Sungai Mahakam, bersebelahan dengan Sungai Alan, serta dikelilingi pegunungan dan hutan adat yang menjadi bagian penting dari sistem kehidupan masyarakat setempat.

Menurut Dedi, karakter khas tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya mancanegara yang ingin merasakan pengalaman budaya dan alam secara langsung. “Memang tamu-tamu yang berkunjung ke sini ingin menikmati alam dan budaya. Jadi bukan seperti mass tourism atau wisata massal. Konsep kami di sini adalah ekowisata, perpaduan masyarakat, alam, dan budaya,” katanya.

Daya tarik utama wisata di Batu Majang adalah Tanaq Ulen, kawasan hutan adat yang dilindungi dan dimanfaatkan sebagai lokasi jungle tracking. Wisatawan dapat menjelajahi hutan, mempelajari keanekaragaman hayati, serta memahami kearifan lokal Dayak Kenyah dalam menjaga hutan. “Minat khusus yang paling diminati di sini adalah jungle tracking. Lokasinya di hutan adat yang disebut Tanaq Ulen,” kata Dedi.

Promosi dilakukan melalui pendekatan digital dan partisipasi wisatawan. Pengunjung didorong membagikan pengalaman mereka melalui media sosial sebagai strategi promosi berbasis komunitas. “Kami gratiskan biaya masuk, yang penting dipromosikan. Kami juga punya akun resmi Pokdarwis,” tambahnya.

Saat ini layanan wisata Batu Majang fokus pada jasa pemandu dengan tarif bervariasi, tergantung sertifikasi. Dedi menegaskan, pengembangan pariwisata tetap berlandaskan prinsip pelestarian lingkungan, dan hutan adat dijaga sebagai aset wisata jangka panjang. “Wisatawan mancanegara mencari pengalaman alami. Mereka tidak membutuhkan hotel berbintang. Tidur di alam saja sudah menjadi kepuasan bagi mereka,” ujarnya.

Dengan konsep ini, Kampung Batu Majang optimistis menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan di Mahakam Ulu, menggabungkan kekayaan alam, budaya Dayak Kenyah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. []

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com