Perahu Penuh Migran Terbalik, Anak-Anak Jadi Korban

ATHENA – Perjalanan menuju Eropa kembali memakan korban. Sebuah perahu kayu yang mengangkut puluhan migran terbalik di perairan dekat Pulau Kreta, Yunani, menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia. Dua puluh lainnya berhasil diselamatkan dalam operasi darurat yang melibatkan berbagai unsur penyelamatan laut.

Dilansir AFP, Minggu (22/02/2026), insiden tersebut memicu respons cepat dari otoritas Yunani. Pusat Pencarian dan Penyelamatan Yunani mengerahkan kapal patroli serta meminta bantuan kapal komersial yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mayoritas penumpang dilaporkan berasal dari Mesir dan Sudan, termasuk empat anak-anak yang turut menjadi korban dalam musibah itu.

Juru bicara penjaga pantai Yunani menjelaskan bahwa operasi pencarian masih berlangsung. Ia menyampaikan bahwa upaya penyisiran area dilakukan secara intensif dengan melibatkan empat kapal patroli, satu pesawat pengintai, serta dua kapal milik badan penjaga perbatasan Uni Eropa, Frontex.

Media penyiaran publik Yunani, ERT, melaporkan kecelakaan bermula ketika kapal penyelamat mendekati perahu kayu yang kelebihan muatan. Saat para penumpang berusaha berpindah ke kapal penyelamat melalui tangga, pergerakan mendadak menyebabkan perahu kecil itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terbalik.

Keterangan dari para korban selamat menyebutkan bahwa sekitar 50 orang berada di atas perahu saat insiden terjadi. Tak jauh dari lokasi, otoritas juga menemukan perahu kedua yang membawa sekitar 40 migran, sehingga operasi penyelamatan tambahan segera dilakukan.

Rute penyeberangan dari Libya menuju Kreta memang dikenal berbahaya. Dalam lebih dari setahun terakhir, jalur laut tersebut menjadi salah satu pintu masuk utama menuju wilayah Uni Eropa.

Data dari UNHCR menunjukkan lebih dari 16.770 pencari suaka tiba di Kreta sepanjang 2025. Pada periode yang sama, sedikitnya 107 orang dilaporkan meninggal atau hilang di perairan Yunani.

Menghadapi lonjakan kedatangan migran, pemerintah Yunani yang berhaluan konservatif sempat menghentikan sementara pemrosesan permohonan suaka selama tiga bulan pada musim panas lalu, terutama bagi mereka yang berangkat dari Libya. Kebijakan tersebut menuai perdebatan di tingkat domestik maupun Uni Eropa.

Tragedi terbaru ini kembali menegaskan betapa berisikonya perjalanan laut menuju Eropa, di tengah tekanan politik dan krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com