NUNUKAN – Musibah jatuhnya pesawat pengangkut bahan bakar minyak (BBM) di kawasan Gunung Pa’ Belaban, Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/02/2026), tidak hanya menyisakan duka. Di balik tragedi tersebut, muncul kecemasan serius dari masyarakat perbatasan terkait pasokan energi yang menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.
Krayan yang berada di wilayah perbatasan RI–Malaysia selama ini sangat bergantung pada distribusi BBM melalui jalur udara. Pesawat yang mengalami kecelakaan diketahui rutin mengangkut BBM untuk memenuhi kebutuhan lima kecamatan di dataran tinggi tersebut.
Tokoh Adat Dayak Lundayeh Kalimantan Utara, Marli Kamis, mengungkapkan bahwa armada pengangkut BBM ke Krayan sebelumnya berjumlah dua unit. Kini, pasca insiden, hanya tersisa satu pesawat yang beroperasi.
“Informasi yang kami terima, sebelumnya ada dua pesawat yang melayani distribusi BBM ke Krayan. Setelah satu mengalami kecelakaan, praktis hanya tinggal satu unit yang beroperasi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (22/02/2026).
Menurutnya, jika tidak ada langkah cepat dari pihak maskapai untuk menghadirkan armada pengganti, potensi kelangkaan BBM dalam beberapa pekan ke depan sangat terbuka.
“Distribusi dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lima kecamatan. Tanpa pengganti, dalam dua sampai tiga minggu ke depan sangat mungkin terjadi kekosongan pasokan,” tegasnya.
Marli menilai persoalan ini harus segera menjadi perhatian serius, mengingat akses darat menuju Krayan sangat terbatas dan ketergantungan pada jalur udara masih tinggi. Ia mendorong maskapai agar segera mengambil langkah konkret demi menjaga stabilitas distribusi BBM di wilayah perbatasan tersebut.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya standar keselamatan penerbangan yang ketat. Ia mencontohkan praktik perawatan rutin yang dilakukan oleh Mission Aviation Fellowship (MAF) sebelum melakukan penerbangan di wilayah pedalaman.
“Kita bisa melihat bagaimana MAF selalu memastikan perawatan pesawat dilakukan secara berkala sebelum terbang. Standar seperti itu penting diterapkan secara konsisten agar keselamatan awak dan kelancaran distribusi tetap terjaga,” katanya.
Di tengah kekhawatiran akan pasokan energi, Marli turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pilot yang gugur saat menjalankan tugas distribusi BBM ke wilayah perbatasan yang dikenal sulit dijangkau tersebut.
“Atas nama masyarakat adat Dayak Lundayeh, kami menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga pilot. Dedikasinya dalam melayani kebutuhan masyarakat Krayan patut dihargai. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ucapnya.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi di wilayah terpencil sangat bergantung pada moda transportasi yang berisiko tinggi. Tanpa langkah cepat dan terukur, bayang-bayang kelangkaan BBM di perbatasan bukan sekadar kekhawatiran, melainkan ancaman nyata. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan