Tanam Padi Bersama, Warga Kuala Belawit Rawat Kebersamaan

Sekitar 40 anggota WBI Kuala Belawit menghimpun upah dari pekerjaan menanam padi untuk mendukung persiapan Natal sekaligus menjaga budaya kebersamaan masyarakat Krayan Barat.

NUNUKAN – Sekitar 40 anggota Wanita Bethany Indonesia (WBI) Kuala Belawit memanfaatkan musim tanam padi untuk menghimpun dana persiapan perayaan Natal melalui kerja bersama di lahan persawahan Desa Ma’libu, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan (Nunukan), Kamis (06/08/2026).

Kelompok tersebut menerima pekerjaan menanam padi di lahan milik Tervina Lalang yang luas keseluruhannya diperkirakan mencapai empat hingga lima hektare. Upah yang diperoleh dari pekerjaan itu tidak dibagikan kepada anggota, tetapi dikumpulkan untuk mendukung kebutuhan perayaan Natal.

Pelaksanaan penanaman tersebut, sebagaimana diberitakan Media lokal, Kamis, (06/08/2026), memperlihatkan bagaimana kegiatan pertanian dapat menjadi sumber penguatan ekonomi sekaligus menjaga kebersamaan masyarakat di kawasan Kuala Belawit.

Dalam proses penanaman, kaum perempuan mengambil peran utama dengan menanam bibit padi pada petak-petak sawah. Sementara itu, kaum laki-laki membantu mengangkut semaian ke lokasi, menurunkan, dan membagikan ikatan bibit kepada para penanam.

Pembagian tugas tersebut membuat pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat, terutama karena penanaman harus dilakukan sesuai jadwal agar pertumbuhan padi tidak terganggu.

Warga Kuala Belawit, Sepry, menjelaskan penyemaian padi di Krayan Barat umumnya dimulai sekitar 16 Juni. Bibit yang telah berada di tempat persemaian selama kurang lebih satu bulan kemudian dipindahkan ke sawah mulai 16 Juli hingga 15 Agustus.

Kuala Belawit merupakan kawasan yang mencakup masyarakat dari lima desa, yakni Desa Ma’libu, Desa Pa’mering, Desa Pa’lulut, Desa Lepatar, dan Desa Pa’pani. Warga dari kelima desa itu biasanya saling membantu selama musim tanam agar pekerjaan di sawah dapat diselesaikan tepat waktu.

Selain melalui kelompok kerja berbayar seperti WBI, masyarakat Krayan Barat masih mempertahankan tradisi gotong royong yang disebut pengaliw. Tradisi tersebut dijalankan dengan sistem saling membantu secara bergiliran tanpa pembayaran.

Dalam pelaksanaan pengaliw, warga bersama-sama menanam padi di sawah milik satu keluarga. Keluarga yang telah menerima bantuan kemudian berkewajiban membantu ketika penanaman dilakukan di sawah keluarga lainnya.

Sistem tersebut tidak hanya meringankan beban kerja petani, tetapi juga menjaga hubungan kekeluargaan, solidaritas, dan rasa saling bergantung antarmasyarakat. Tradisi itu diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kehidupan pertanian di Krayan Barat.

Memasuki musim tanam, pengamanan ternak juga menjadi perhatian masyarakat. Pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan lembaga adat biasanya mengimbau warga menjaga kerbau, sapi, itik, serta ternak lainnya agar tidak memasuki persawahan dan merusak bibit yang baru ditanam.

Sepry berharap budaya saling membantu dalam kegiatan pertanian tetap dipertahankan oleh generasi berikutnya. Warga juga diharapkan menjaga ternaknya selama musim tanam agar kerja keras petani tidak terganggu dan hasil panen dapat diperoleh secara maksimal.

Kegiatan WBI Kuala Belawit menunjukkan bahwa musim tanam tidak hanya menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga dapat memperkuat kemandirian kelompok, menjaga pembagian peran, dan merawat solidaritas sosial masyarakat Krayan Barat. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com