Israel Tolak Mundur dari Lebanon, Suriah, dan Gaza

Penegasan Israel untuk mempertahankan pasukan di Lebanon selatan muncul menjelang pembicaraan baru dengan Lebanon yang direncanakan berlangsung di Roma pada awal September.

BEIRUT – Komitmen Israel untuk tetap menempatkan pasukannya di wilayah yang disebut sebagai “zona keamanan” di Lebanon selatan berpotensi memperumit pelaksanaan kesepakatan dengan Lebanon yang disponsori Amerika Serikat (AS). Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Israel Katz menegaskan pasukan Israel tidak akan ditarik dari wilayah tersebut, sementara pembicaraan lanjutan kedua negara dijadwalkan berlangsung pada awal September di Roma, Italia.

Katz menyampaikan sikap tersebut saat mengunjungi pasukan Israel di Lebanon selatan pada Rabu (12/08/2026). Pernyataan itu disampaikan hampir dua bulan setelah Israel dan Lebanon menyepakati kerangka kerja yang mencakup perlucutan senjata kelompok Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan, serta pengerahan tentara Lebanon di kawasan tersebut.

“Seperti yang telah dinyatakan dengan jelas oleh perdana menteri dan saya, kami tidak akan menarik diri dari zona keamanan ini,” kata Katz selama kunjungan ke pasukan Israel di Lebanon selatan, menurut pernyataan dari kantornya, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (13/08/2026).

Zona yang disebut Israel sebagai kawasan keamanan tersebut membentang sekitar 10 kilometer ke wilayah Lebanon. Katz bersama Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa Israel akan mempertahankan keberadaan militernya di kawasan itu.

“Militer Israel berada di sini untuk melindungi komunitas di utara dan pasukannya sendiri. Kami akan membersihkan area ini dan menjamin keamanan penduduk di utara. Kami sama sekali tidak akan mundur dari zona keamanan: tidak di Lebanon, tidak di Suriah, dan tidak di Gaza,” cetus Menhan Israel itu.

Katz juga mengatakan operasi militer Israel di Lebanon selatan masih mencakup penghancuran fasilitas yang disebut sebagai infrastruktur bawah tanah. Ia menyatakan militer Israel “menghancurkan infrastruktur bawah tanah” di daerah tersebut dan “menghancurkan semua rumah”.

Sikap Israel tersebut menjadi perhatian menjelang rencana perundingan berikutnya antara Israel dan Lebanon. AS berencana memfasilitasi pembicaraan baru pada awal September di Roma untuk membahas perkembangan kesepakatan yang telah dicapai kedua negara.

Persoalan keberadaan pasukan Israel menjadi salah satu isu penting dalam kesepakatan tersebut. Berdasarkan kerangka kerja yang disepakati, pasukan Israel seharusnya ditarik secara bertahap dari Lebanon selatan, sementara tentara Lebanon dikerahkan ke kawasan itu dan Hizbullah didorong untuk melepaskan persenjataannya.

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah sebelumnya meningkat setelah kelompok yang didukung Iran itu melancarkan serangan roket ke Israel pada awal Maret. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS dan Israel.

Israel kemudian melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan. Perkembangan tersebut memperluas keterlibatan Lebanon dalam konflik yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.

Di Suriah, Israel juga melakukan serangan berulang sejak pemerintahan Bashar al-Assad terguling. Israel menyatakan operasi tersebut antara lain ditujukan untuk membentuk zona demiliterisasi di wilayah selatan Suriah.

Sementara itu, di Jalur Gaza, pasukan Israel masih menguasai lebih dari 60 persen wilayah yang mengalami kehancuran akibat perang. Netanyahu juga menolak rencana perdamaian Gaza yang dimediasi AS dan didukung kelompok Hamas pada pekan sebelumnya.

Netanyahu menegaskan militer Israel “tidak akan melakukan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, dan akan terus menggagalkan ancaman terhadap pasukan dan warga negara kami”.

Pernyataan Katz memperlihatkan bahwa pemerintah Israel mempertahankan pendekatan keamanan berbasis kehadiran militer di sejumlah wilayah yang menjadi pusat konflik. Sikap tersebut berpotensi menjadi salah satu isu utama dalam pembicaraan mendatang, terutama terkait rencana penarikan pasukan Israel dan pengaturan keamanan di Lebanon selatan. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com