Momentum Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong menjadi pengingat pentingnya menjaga sejarah, adat, dan kearifan lokal sebagai bagian dari pembangunan, pelayanan publik, dan kemajuan Kukar.
KUTAI KARTANEGARA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pembangunan Kota Tenggarong tetap berakar pada sejarah, adat, dan budaya daerah. Memasuki usia ke-244 tahun, ibu kota Kukar itu diharapkan berkembang sebagai kota yang maju tanpa kehilangan identitas dan kearifan lokalnya.
Pesan tersebut disampaikan Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani dalam rapat paripurna dengan agenda mendengarkan pidato Bupati Kukar dalam rangka Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong di Ruang Sidang Utama DPRD Kukar, Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Timbau, Tenggarong, Senin (28/09/2026).
Ahmad Yani mengajak pemerintah dan masyarakat menjadikan peringatan hari jadi sebagai momentum memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah sekaligus membangun kebersamaan untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga momentum ini semakin memperkuat kecintaan kita kepada budaya daerah dan Kota Tenggarong yang kita cintai. Dengan semangat kebersamaan, mari kita terus bergotong royong mewujudkan cita-cita pembangunan, yakni masyarakat yang maju dan sejahtera,” kata Ahmad Yani.
Menurutnya, perjalanan Tenggarong tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Warisan sejarah tersebut dinilai menjadi bagian penting dari identitas daerah yang harus terus dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi perhatian ialah Keraton Kutai yang kini difungsikan sebagai Museum Mulawarman. Ahmad Yani juga menyebut masih terdapat sejumlah benda bersejarah Kesultanan Kutai Kartanegara yang tersimpan di Museum Nasional maupun berada di luar negeri.
“Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama seluruh komponen masyarakat harus bergandengan tangan untuk merawat, membina, dan memperbaiki lingkungan Keraton agar kebanggaan budaya kita terus tumbuh dan berkembang dalam bingkai kearifan lokal,” ujarnya.
Ahmad Yani menilai bertambahnya usia Tenggarong juga harus menjadi momentum evaluasi terhadap perkembangan pembangunan di seluruh wilayah Kukar. Tenggarong, menurutnya, perlu terus ditata menjadi kota yang ramah, indah, bersih, dan maju dengan tetap memberikan ruang bagi nilai-nilai kearifan lokal.
Tema Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, yakni “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”, dinilainya merepresentasikan kedekatan antara pemimpin dan masyarakat sekaligus semangat pelayanan kepada rakyat.
“Peringatan Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244 tahun yang mengusung Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya, diharapkan dapat dimaknai sebagai simbol kedekatan antara pemimpin dengan rakyat serta semangat untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Pelestarian budaya, lanjut Ahmad Yani, tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Adat istiadat, bahasa daerah, dan nilai-nilai kearifan lokal perlu memperoleh ruang dalam kebijakan publik, termasuk melalui pendidikan formal, nonformal, serta lingkungan birokrasi.
“Peringatan budaya tidak boleh terjebak hanya pada seremoni, tetapi harus menjadi energi sosial yang menggerakkan pembangunan daerah,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menempatkan Tenggarong sebagai wajah utama Kukar. Menurutnya, kondisi kota, kualitas pelayanan pemerintah, budaya, kebersihan, hingga kehidupan masyarakat akan menjadi gambaran pertama yang dilihat masyarakat maupun pendatang terhadap daerah tersebut.
“Tenggarong harus menjadi etalase Kutai Kartanegara. Bukan etalase yang hanya indah dilihat, tetapi kota yang mencerminkan kualitas pembangunan, kualitas pelayanan, kualitas masyarakat dan kualitas peradaban kita,” kata Aulia.
Aulia juga mengingatkan pembangunan daerah menghadapi tantangan ruang fiskal yang semakin membutuhkan kehati-hatian. Efisiensi anggaran membuat pemerintah harus lebih selektif dalam menentukan program dan kegiatan yang benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.
Meski demikian, ia menegaskan keterbatasan anggaran tidak boleh mengurangi semangat pemerintah dalam menjalankan pembangunan.
“Efisiensi anggaran bukan berarti efisiensi semangat pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujarnya.
Aulia turut menekankan pentingnya kekompakan seluruh elemen daerah. Perbedaan pandangan, menurutnya, merupakan hal yang wajar, tetapi tidak boleh menghambat upaya bersama dalam membangun Kukar.
“Perbedaan itu pasti ada. Akan tetapi, perbedaan bukan untuk memecah langkah gerak kita. Perbedaan untuk kita diskusikan, untuk kita bicarakan, kita cari jalan temunya,” katanya.
Rapat paripurna tersebut dipimpin Ahmad Yani bersama jajaran DPRD Kukar dan dihadiri sejumlah tamu undangan, antara lain Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, perwakilan DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dari daerah pemilihan Kukar, pimpinan DPRD kabupaten/kota di Kaltim, Ketua DPRD Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) beserta jajaran, perwakilan DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), serta Sekretariat DPRD Kabupaten Bulungan.
Sejumlah mantan kepala daerah Kukar juga menghadiri agenda tersebut, di antaranya Bupati Kukar periode 2010–2015 Gufron Yusuf dan Bupati Kukar periode 2019–2024 Edi Damansyah.
Momentum Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong diharapkan menjadi titik temu antara pelestarian warisan sejarah dan kebutuhan pembangunan masa kini. Dengan menjaga identitas budaya, meningkatkan kualitas pelayanan, mengelola anggaran secara selektif, serta memperkuat kebersamaan, Tenggarong diarahkan berkembang sebagai kota yang mencerminkan kemajuan sekaligus karakter Kukar. [] (ADV)
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan