Sanksi AS Menguat, Iran Siapkan Strategi Lepas dari Dolar

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mendorong peningkatan produksi domestik, pengurangan peran dolar, pemanfaatan inovasi, dan penguatan kohesi sosial untuk menghadapi tekanan ekonomi AS.

TEHERAN – Iran mengarahkan strategi ekonominya pada penguatan produksi dalam negeri, pengurangan peran dolar, dan peningkatan investasi untuk menghadapi tekanan ekonomi Amerika Serikat (AS). Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga menempatkan persatuan nasional sebagai unsur penting agar tekanan eksternal tidak memperlemah ketahanan ekonomi dan sosial negara tersebut.

Seruan itu disampaikan Khamenei dalam pesan memperingati Pekan Pemerintah Iran, Jumat (28/08/2026), beberapa hari setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump meluncurkan kampanye Operation Economic Outcast untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Khamenei meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan ekonomi yang berdampak langsung kepada masyarakat, terutama inflasi. Peningkatan kapasitas produksi nasional dinilainya menjadi salah satu instrumen utama untuk mengurangi kerentanan Iran terhadap tekanan dari luar.

“Kunci untuk menyelesaikan semua persoalan di bidang ini terletak pada ketergantungan sebesar mungkin terhadap produksi dalam negeri,” ujarnya sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Minggu, (30/08/2026).

Selain mendorong produksi domestik, Khamenei meminta pemerintah secara bertahap mengurangi peran dolar dalam perekonomian dan memusatkan kebijakan pada konsep ekonomi perlawanan. Impor, menurut dia, tetap dapat dilakukan apabila kemampuan produksi dalam negeri belum mencukupi, tetapi harus dilaksanakan secara tepat dan bijaksana.

Strategi tersebut disampaikan ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi yang meningkat setelah AS menjalankan Operation Economic Outcast. Kebijakan Washington tersebut ditujukan untuk memperketat hubungan ekonomi dan keuangan Iran dengan negara maupun pihak lain.

Khamenei mengakui tekanan yang dilakukan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran selama perang maupun setelahnya tetap memberikan dampak terhadap kondisi negara. Namun, ia menilai pengelolaan yang melibatkan masyarakat, tenaga ahli, dan pemanfaatan kapasitas baru dapat membuka ruang bagi pertumbuhan dan pembangunan.

“Musuh bebuyutan bangsa ini berusaha menyampaikan bahwa jalan menuju pembangunan dan kemajuan terletak pada mengikuti mereka dan memenuhi tuntutan mereka yang tidak masuk akal,” ujar Mojtaba.

Ia menilai pengalaman Iran pada masa lalu justru menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap kekuatan asing bukan jalan yang menjamin pembangunan negara.

“Padahal, melihat apa yang telah mereka lakukan terhadap negara ini dan sumber dayanya pada masa lalu, bahkan bertahun-tahun sebelum Revolusi Islam, menunjukkan hal yang sebaliknya,” ujar Mojtaba.

Pemanfaatan teknologi dan inovasi yang dihasilkan kelompok muda juga menjadi bagian dari strategi yang didorong Khamenei. Penggunaan teknologi secara tepat waktu serta keberanian meninggalkan prosedur yang dinilai tidak lagi efektif disebut dapat menghasilkan percepatan pembangunan.

Di tengah tekanan tersebut, Khamenei menilai masyarakat Iran telah menunjukkan ketangguhan selama enam bulan terakhir dalam menghadapi konflik dengan AS dan Israel. Kondisi itu, menurut dia, harus diimbangi dengan peningkatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Ia turut mengapresiasi pemerintahan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang dinilai tetap mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, memperbaiki infrastruktur yang rusak, menyediakan layanan publik, serta mengelola kebutuhan energi dalam situasi penuh tekanan.

“Secara khusus, saya memuji langkah-langkah yang layak mereka ambil, meskipun menghadapi berbagai pembatasan dan rencana musuh Amerika-Zionis, serta meningkatnya sanksi dan blokade,” ujar Mojtaba.

Selain ketahanan ekonomi, Khamenei menempatkan persatuan nasional dan kohesi sosial sebagai prioritas. Ia memperingatkan bahwa pernyataan maupun pembentukan dikotomi politik yang melemahkan semangat masyarakat berpotensi menimbulkan kerugian bagi Iran.

“Tidak diragukan lagi, setiap pernyataan yang melemahkan semangat nasional dan publik, serta segala bentuk dikotomi yang dibuat-buat-seperti perang atau negosiasi, konsensus atau ekstremisme, kompromi atau penghasutan perang-yang pada masa lalu menimbulkan kerugian langsung maupun tidak langsung bagi rakyat tercinta kita, dapat menimbulkan dampak yang sama mulai sekarang,” ujar Mojtaba.

“Oleh karena itu, saya dengan tegas menyatakan bahwa melakukan tindakan apa pun yang merusak kohesi sosial adalah dilarang,” lanjutnya.

Perhatian pemerintah juga diminta diarahkan pada sektor budaya, pendidikan, dan pengasuhan. Khamenei menyoroti peran guru, dosen, perawat, dokter, hingga ibu rumah tangga yang dinilainya memiliki kontribusi terhadap pembentukan masa depan sosial dan budaya Iran.

Pekan Pemerintah Iran diperingati setiap tahun untuk mengenang Presiden Mohammad Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar yang tewas dalam pengeboman pada 30 Agustus 1981. Dalam pesannya, Khamenei turut mengenang Rajai, Ebrahim Raisi, Bahonar, sejumlah pejabat pemerintahan yang meninggal, serta mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Melalui penguatan produksi domestik, pemanfaatan inovasi, pengurangan ketergantungan terhadap dolar, dan pemeliharaan persatuan nasional, Khamenei berharap Iran mampu mempertahankan ketahanan ekonomi sekaligus melanjutkan pembangunan di tengah meningkatnya tekanan eksternal menuju apa yang disebutnya sebagai “Iran yang semakin kuat”. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com