Validasi data BNPB menunjukkan jumlah pengungsi di Ngada melonjak dari 3.259 menjadi 21.552 orang, sementara 9.278 gempa susulan tercatat sejak gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT.
JAKARTA – Jumlah pengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) melonjak setelah dilakukan validasi data di Kabupaten Ngada. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah pengungsi di Ngada yang sebelumnya tercatat 3.259 orang bertambah menjadi 21.552 orang, sementara hingga Sabtu (29/08/2026), korban meninggal akibat bencana tersebut mencapai 111 orang.
Lonjakan jumlah pengungsi terjadi karena pembaruan dan verifikasi data dari daerah terdampak. BNPB menyebut data mengenai jumlah warga yang mengungsi di Ngada sebelumnya belum sepenuhnya mutakhir dan valid.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan perubahan tersebut dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta.
“Kenapa ini bertambah sedangkan dua hari yang lalu berkurang? Ini sebenarnya dikarenakan adanya pembaharuan data signifikansi yang terjadi di (Kabupaten) Ngada, di mana selama ini data-data yang hadir kepada kami itu kurang update, kurang valid, sehingga dilakukan validasi, sehingga kita lihat di Ngada yang tadinya hanya 3.259 orang, sekarang menjadi 21.552 orang pengungsi,” ucap Berton, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu, (29/08/2026).
Selain peningkatan jumlah pengungsi, aktivitas kegempaan di wilayah NTT masih tinggi sejak gempa utama bermagnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 9.278 gempa susulan hingga Sabtu.
“BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] mencatat ada 9.278 gempa susulan yang terjadi dengan magnitudo paling besar 6,2, paling kecil 1, dan yang dirasakan oleh masyarakat ada 153 kali,” ucap Berton.
BNPB juga mencatat jumlah korban meninggal masih berada pada angka 111 orang. Belum terdapat perubahan jumlah korban jiwa dalam pembaruan data terakhir yang disampaikan pemerintah.
“Jumlah yang meninggal tetap sebesar 111 orang, dan tetap kita mohon doa untuk seluruh yang meninggal akibat dari gempa ini untuk kiranya diberikan ketabahan buat keluarga, buat handai tolan, maupun untuk tetangga-tetangga yang bersama-sama selama ini terkait dengan warga yang meninggal tersebut,” ujar Berton.
Di tengah proses penanganan pengungsi dan pemantauan gempa susulan, distribusi bantuan terus dilakukan ke sejumlah wilayah terdampak. BNPB menerima tambahan bantuan sebanyak lima ton pada Sabtu, sedangkan bantuan yang telah dikirim sebelumnya mencapai 22 ton.
Berton menyebut secara keseluruhan logistik yang telah disalurkan selama periode 15-29 Agustus 2026 mencapai 1.916 ton dan tersebar ke sejumlah daerah terdampak.
“Secara kualitatif jumlah logistik yang terkirim itu ada sebesar 1.916 ton dalam periode tanggal 15 sampai 29 Agustus 2026. Nah, ini kita bisa lihat bahwa di Labuan Bajo itu ada 1.200 ton, di Maumere ada 598 ton, di Manggarai Barat sendiri ada 12 ton, Manggarai ada 25 ton, Manggarai Timur ada 30 ton, Ngada ada 8 ton, Nagekeo ada 16 ton, Ende ada 16 ton, dan Sikka ada 10 ton,” tutur Berton.
Besarnya jumlah pengungsi, ribuan gempa susulan, serta kebutuhan logistik di berbagai wilayah menunjukkan penanganan bencana masih membutuhkan pemutakhiran data secara berkelanjutan. Validasi data dari daerah terdampak menjadi penting agar bantuan dapat disalurkan sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus memastikan perkembangan kondisi korban dapat dipantau secara akurat. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan