Malone Lam mengaku bersalah dalam kasus pencurian kripto lebih dari Rp4,2 triliun, sementara gaya hidup mewahnya menjadi salah satu sorotan dalam perkara tersebut
WASHINGTON, D.C. – Gaya hidup mewah Malone Lam menjadi salah satu bagian mencolok dalam perkara pencurian mata uang kripto senilai lebih dari US$260 juta atau sekitar Rp4,2 triliun di Amerika Serikat (AS). Warga Singapura berusia 22 tahun itu mengaku bersalah karena mengatur dan memimpin jaringan yang menargetkan pemilik aset kripto dalam jumlah besar.
Lam menyampaikan pengakuan bersalah dalam persidangan di Washington, D.C., Selasa (8/9/2026). Ia menjadi terdakwa ke-11 dari total 18 terdakwa dalam perkara tersebut yang mengakui kesalahannya.
Jaringan yang dipimpin Lam menggunakan metode rekayasa sosial dengan menyamar sebagai karyawan perusahaan tepercaya, termasuk Google. Para pelaku membujuk korban memberikan informasi sensitif seperti kata sandi, frasa kunci, dan kode autentikasi sebelum menggunakannya untuk mengakses serta menguras dompet kripto.
Salah satu aksi terbesar terjadi pada Agustus 2024 ketika kelompok tersebut mencuri lebih dari 4.100 bitcoin milik seorang korban di Washington, D.C. Nilai aset itu mencapai sekitar US$230 juta atau lebih dari Rp3,7 triliun pada saat pencurian.
Setelah memperoleh aset korban, jaringan tersebut berupaya menyamarkan aliran dana melalui pencucian mata uang kripto dan mengubah hasil kejahatan menjadi uang tunai maupun kartu pembayaran. Aktivitas pengeluaran Lam kemudian turut memperlihatkan besarnya nilai aset yang dikuasai jaringan tersebut.
Lam disebut menghabiskan jutaan dolar untuk membeli mobil mewah, jam tangan dan pakaian, serta menyewa jet pribadi, pengawal keamanan, dan sejumlah properti di Miami, Los Angeles, serta Hamptons. Beberapa kendaraan yang dibelinya bahkan bernilai hingga US$3,8 juta.
Pengeluaran untuk hiburan malam juga mencapai ratusan ribu dolar. Dalam salah satu kesempatan, Lam disebut menghabiskan sekitar US$569 ribu di sebuah klub malam di Los Angeles.
Dalam persidangan yang berlangsung hampir dua setengah jam, jaksa Christopher Howland mengatakan Lam “memainkan banyak peran” dalam jaringan tersebut. Lam tampil mengenakan seragam penjara berwarna hijau zaitun dan kaus putih serta beberapa kali memastikan dirinya memahami keterangan jaksa.
Ketika hakim meminta konfirmasi atas pengakuannya, Lam menarik napas panjang sebelum menyatakan bersalah.
“Saya mengaku bersalah, Yang Mulia, ” kata Lam, seperti dilaporkan Channel News Asia.
Lam ditangkap pada September 2024, beberapa pekan setelah pencurian besar tersebut. Perkaranya disebut menjadi kasus terkait bitcoin pertama yang ditangani Departemen Kehakiman AS dengan menggunakan Undang-Undang Organisasi yang Dipengaruhi dan Korup oleh Penjahat (RICO).
Atas konspirasi kejahatan terorganisir yang mencakup penipuan melalui transfer dana elektronik dan pencucian uang, Lam menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Ia bersama para kaki tangannya juga diperintahkan mengembalikan lebih dari US$245 juta kepada korban.
Lam dijadwalkan kembali menjalani persidangan pada 8 Desember. Dalam agenda tersebut, hakim diperkirakan menetapkan jadwal pembacaan vonis yang akan menentukan konsekuensi hukum atas pengakuan bersalahnya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis, (10/09/2026). []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan