Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Kamis pagi saat statusnya masih Level III atau Siaga, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta menjauhi kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
LAMPUNG – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami erupsi pada Kamis (10/9/2026) pagi dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik. Di tengah aktivitas vulkanik yang masih berlangsung sejak 4 September, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Erupsi tercatat terjadi pada pukul 09.10 WIB melalui seismograf. Informasi tersebut disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui laman resminya. “Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi selama 17 detik,” tulis Kementerian ESDM dalam situs resminya.
Aktivitas tersebut menambah rangkaian erupsi GAK yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, erupsi juga tercatat pada Rabu (9/9) pukul 00.47 WIB dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama 28 detik.
“Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Rabu, 09 September 2026, pukul 00:47 WIB. Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 51 mm dan durasi 28 detik,” demikian keterangan di situs Magma Kementerian ESDM.
Kementerian ESDM mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki menjauhi kawasan kawah aktif. Pembatasan aktivitas diberlakukan untuk mengurangi risiko keselamatan di tengah kondisi gunung yang masih aktif.
“Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif,” lanjutnya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis, (10/09/2026).
GAK berada di perairan Selat Sunda dan masih tercatat mengalami aktivitas erupsi sejak 4 September 2026. Kondisi tersebut membuat perkembangan aktivitas gunung api terus menjadi perhatian pemerintah dan lembaga terkait.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan aktivitas vulkanik GAK bersifat fluktuatif dengan energi yang cenderung rendah. Kondisi itu antara lain terlihat dari nilai perataan amplitudo Realtime Seismic Amplitude Measurement (RSAM).
Meski energi aktivitas cenderung rendah, perkembangan vulkanik GAK masih terus dipantau dan dievaluasi. Kemungkinan terjadinya letusan dalam waktu dekat juga masih dinilai tinggi sehingga kewaspadaan di sekitar kawasan gunung tetap diperlukan.
Pemerintah hingga kini masih menetapkan status aktivitas GAK pada Level III atau Siaga. Status tersebut menjadi dasar bagi penerapan pembatasan aktivitas di sekitar kawah aktif sekaligus pemantauan berkelanjutan terhadap perubahan kondisi gunung.
Masyarakat yang berada di sekitar wilayah Selat Sunda diharapkan mengikuti seluruh rekomendasi pemerintah dan tidak memasuki zona yang telah ditetapkan. Pemantauan aktivitas vulkanik akan terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi dan mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan