Pameran “Intan Banua” menampilkan lebih dari 40 lukisan yang mengangkat Datu Kalampayan dan sejumlah tokoh penting sebagai simbol kekayaan sejarah serta kebudayaan Banua.
BANJARMASIN – Sosok Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menjadi salah satu ikon utama dalam pameran tunggal bertajuk “Intan Banua” yang digelar perupa lokal Muslim Anang Abdullah di Gedung Wargasari, Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (11/9/2026). Melalui puluhan lukisan, pameran itu berupaya mengenalkan kembali tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh terhadap perjalanan keilmuan dan kebudayaan Banua.
Lebih dari 40 karya ditampilkan dalam pameran tersebut. Karya yang dipamerkan mencakup lukisan terbaru yang dibuat pada 2026 dan sejumlah karya lama sejak 2018. Selain Datu Kalampayan, terdapat pula potret Abah Guru Sekumpul, Agus Salim, serta sejumlah tokoh budaya, ulama, dan tokoh inspiratif lainnya.
Muslim Anang menjelaskan, pemilihan tajuk “Intan Banua” tidak semata-mata merujuk pada intan sebagai salah satu ikon Kalsel. Intan juga dimaknai sebagai simbol bagi tokoh-tokoh yang dianggap memiliki nilai penting dan menjadi “permata” bagi daerah.
“Pemilihan tajuk ‘Intan Banua’ diambil dari salah satu ikon karya yang mengangkat sosok Datu Kalampayan yang dianggap sebagai permata ilmu pengetahuan Banua,” jelas Muslim Anang, sebagaimana diberitakan Kanal Kalimantan, Sabtu, (12/09/2026).
Menurutnya, Datu Kalampayan dipilih untuk merepresentasikan kontribusi tokoh tersebut dalam perkembangan keilmuan Islam di Banua. Jejak pemikiran dan karya tulisnya menjadi bagian dari referensi yang digunakan Muslim dalam menghasilkan lukisan.
“Sebenarnya ada beberapa lukisan yang jadi ikon, tetapi kita mengangkat Datu Kalampayan. Karena Datu Kalampayan ini dilambangkan sebagai permata Banua dari keilmuan sidin (beliau),” ujarnya.
Dalam proses penciptaan karya, Muslim melakukan penelusuran terhadap tulisan dan kitab yang berkaitan dengan Datu Kalampayan. Ia juga mencari referensi visual melalui internet dan media sosial untuk membantu membangun gambaran sosok yang dituangkan ke dalam kanvas.
“Waktu melukis sidin, kita pelajari dari tulisan-tulisan beliau. Selain itu, kita juga mencari referensi di Google dan media sosial, sehingga kita bisa membayangkan bagaimana wajahnya dari referensi yang kita dapat, dan jadilah lukisan yang kita pamerkan hari ini,” imbuhnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kalsel, Rizal Pahmi, menilai pameran tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi Muslim, tetapi juga dapat mendorong perupa lain untuk memanfaatkan Taman Budaya sebagai ruang berkarya.
“Karya-karya pak Anang kali ini kita sangat mengapresiasi kegiatan beliau di UPT Taman Budaya. Sehingga ini memberikan motivasi kepada seniman-seniman lain untuk berkegiatan di UPTD Taman Budaya ini,” ujar Rizal.
Taman Budaya Kalsel yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, kata Rizal, akan terus membuka ruang bagi seniman untuk menampilkan karya. Keberadaan ruang tersebut diharapkan membuat kegiatan seni dan budaya dapat berlangsung secara berkelanjutan serta lebih mudah diakses masyarakat.
“Taman Budaya Kalsel akan selalu memberikan ruang dan panggung kepada seniman-seniman lain, memberikan mereka tempat, sehingga kegiatan-kegiatan ini bisa teragenda,” tambahnya.
Pameran juga dibuka untuk masyarakat umum dan melibatkan pelajar dari sejumlah sekolah. Kehadiran pelajar diharapkan tidak hanya memperkenalkan seni lukis, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal tokoh dan perjalanan budaya daerah melalui karya visual.
“Kemarin pak Anang juga mengundang anak-anak dari sejumlah sekolah untuk melihat karya seni lukis yang beliau tampilkan,” jelasnya.
Muslim berharap karya-karya yang dipamerkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal lebih dekat tokoh-tokoh Banua dan mengambil nilai keteladanan dari perjalanan mereka. Pameran “Intan Banua” sekaligus menjadi upaya perupa merawat ingatan tentang sejarah, tokoh, dan kebudayaan Banua melalui bahasa seni. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan