Penguasaan Pulau Perim oleh Houthi di tengah Selat Bab Al Mandab memicu kekhawatiran keamanan pelayaran dan mendorong Arab Saudi meminta dukungan Amerika Serikat.
SANA’A – Penguasaan Pulau Perim di Selat Bab Al Mandab oleh kelompok Houthi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur pelayaran paling strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan perairan internasional. Situasi tersebut turut mendorong Arab Saudi meminta dukungan militer Amerika Serikat untuk menghadapi kelompok Houthi di Yaman.
Pulau Perim, yang juga dikenal sebagai Pulau Mayyun, berada di tengah Selat Bab Al Mandab. Lokasi tersebut memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari jalur pelayaran utama kapal-kapal yang bergerak menuju maupun dari Laut Merah.
Seorang pejabat Yaman yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan pasukan Houthi telah mengambil alih pulau tersebut setelah pasukan pemerintah Yaman menarik diri pada Kamis (10/9) waktu setempat.
“Perahu-perahu yang mengangkut petempur bersenjata Houthi tiba di Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah menarik diri dari sana kemarin,” ujar pejabat tersebut.
Pejabat itu juga menyebut penguasaan Pulau Mayyun menjadi bagian dari upaya Houthi memperkuat kendali atas kawasan Bab Al Mandab. Pernyataan tersebut disampaikan kepada AFP dengan syarat anonim, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu, (12/09/2026).
“Kelompok Houthi telah merampungkan pengambilalihan wilayah Bab Al Mandab dan Pulau Mayyun, yang terletak di tengah selat tersebut,” tambahnya saat berbicara kepada AFP dengan syarat anonim.
Kesaksian lain menggambarkan adanya aktivitas kelompok bersenjata di kawasan pesisir setelah pengambilalihan pulau. Pergerakan tersebut menunjukkan keberadaan Houthi semakin dekat dengan jalur laut yang menjadi akses penting bagi perdagangan dan pelayaran regional.
Seorang saksi mata mengatakan bahwa orang-orang bersenjata sedang “menempatkan diri di sepanjang pesisir Bab Al Mandab dan berkeliling menggunakan kendaraan militer.”
Perkembangan di Bab Al Mandab kemudian mendapat perhatian serius dari Arab Saudi. Pemerintah Saudi disebut meminta bantuan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis untuk membantu menghadapi Houthi yang disebut sebagai kelompok proksi Iran.
Menurut tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Trump setidaknya dua kali berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri sekaligus Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman (MbS). Namun, Trump disebut tidak menyetujui usulan agar Amerika Serikat melakukan serangan langsung terhadap Houthi.
Sebagai gantinya, Washington disebut menawarkan dukungan melalui pertukaran informasi intelijen dan penentuan target serangan. Seorang pejabat senior pemerintah Amerika Serikat mengatakan Washington tetap berkomunikasi dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman.
“Amerika Serikat fokus untuk melindungi kepentingan utama keamanan nasional kami, seperti menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah, sembari memberdayakan mitra-mitra regional kami agar mengambil peran utama dalam menangani dan menyelesaikan tantangan keamanan kawasan,” ujar pejabat tersebut.
Kantor media pemerintah Saudi belum memberikan tanggapan mengenai percakapan antara Trump dan MbS maupun permintaan dukungan militer tersebut.
Sementara itu, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) Laksamana Brad Cooper melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada Kamis untuk menggelar pembicaraan dengan pihak terkait.
Penguasaan Pulau Perim menambah dimensi baru terhadap persoalan keamanan di Bab Al Mandab. Dengan posisi pulau yang berada di tengah selat, perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan perhatian terhadap keamanan pelayaran dan stabilitas kawasan Laut Merah. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan