Konflik dengan AS Memanas, Iran Buka Opsi Senjata Nuklir

Iran membuka kemungkinan mengubah doktrin nuklir dan meninjau keanggotaannya dalam NPT setelah hubungan dengan AS kembali memanas.

TEHERAN – Iran membuka kemungkinan mengubah kebijakan nuklirnya hingga menarik diri dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) seiring memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat (AS) dan mandeknya upaya perundingan damai antara kedua negara.

Juru bicara dewan pimpinan parlemen Iran, Abbas Goudarzi, mengatakan perubahan doktrin nuklir dapat dilakukan dengan mudah apabila tekanan dari AS dan negara-negara sekutunya terhadap Teheran terus berlanjut. Pernyataan tersebut sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin, (14/09/2026).

Goudarzi menilai AS dan sekutunya berupaya memaksa Iran menyerah. Karena itu, menurut dia, Teheran perlu menghadapi tekanan tersebut dengan pendekatan yang lebih keras.

“NPT dan peninjauan kembali doktrin nuklir adalah hal yang sepenuhnya dapat dicapai dan mudah dilakukan,” ujarnya, seperti dikutip Middle East Monitor.

Pernyataan tersebut muncul ketika ketegangan antara Iran dan AS kembali meningkat. Iran sebelumnya mengeklaim telah menyerang kapal perang serta pangkalan militer AS di Yordania. Serangan itu kemudian dibalas AS dengan menyerang sejumlah kapal tanker Iran.

Ancaman perubahan kebijakan tersebut juga berkaitan dengan posisi kedua negara dalam NPT. Iran dan AS masing-masing meratifikasi perjanjian itu pada 1969 dan 1970.

Dalam ketentuan NPT, Iran berstatus sebagai negara yang tidak memiliki senjata nuklir, sedangkan AS termasuk negara yang telah memiliki senjata nuklir. Perjanjian tersebut bertujuan mencegah pengembangan dan penggunaan senjata nuklir secara tidak terkendali.

Ancaman untuk meninjau kembali doktrin nuklir Iran menjadi perhatian karena sebelumnya Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih menegaskan sikap berbeda. Pada Sabtu (12/9), Pezeshkian menyatakan Iran tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan tetap berkomitmen mematuhi NPT.

Perbedaan pernyataan tersebut menunjukkan tekanan politik dan keamanan akibat konflik dengan AS mulai memunculkan kembali perdebatan mengenai arah kebijakan nuklir Iran. Jika opsi peninjauan doktrin benar-benar ditempuh, langkah tersebut dapat semakin memperumit upaya meredakan ketegangan dan mempertahankan rezim nonproliferasi nuklir di kawasan. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com