Gambar Ilustrasi

Bentrokan Ideologi Berujung Maut, Aparat Turun Tangan

PARIS — Otoritas di Prancis membuka penyelidikan dugaan pembunuhan setelah seorang aktivis muda dari kubu sayap kanan meninggal dunia akibat serangan brutal yang terjadi di kota Lyon. Perkembangan kasus tersebut disampaikan kepada publik pada Selasa (17/02/2025) dan langsung memicu saling tuding antar-kelompok politik ekstrem di tengah meningkatnya suhu politik nasional.

Korban bernama Quentin Deranque, 23 tahun, mengembuskan napas terakhir setelah mengalami cedera otak berat usai diserang sekelompok orang pada Kamis (12/02/2025). Serangan terjadi di sela aksi protes kelompok kanan terhadap kehadiran seorang politisi kiri di lingkungan universitas. Jaksa setempat menegaskan perkara tersebut kini ditangani sebagai dugaan pembunuhan disengaja yang disertai kekerasan berat, sementara para pelaku bertopeng masih dalam proses identifikasi.

Pemerintah menilai retorika keras dari partai kiri radikal, France Unbowed, turut menciptakan atmosfer yang memungkinkan kekerasan terjadi. Seorang juru bicara pemerintah menyatakan situasi politik yang sarat konfrontasi selama bertahun-tahun tidak bisa dilepaskan dari tragedi tersebut. “Dalam konteks ketegangan yang terus meningkat, terdapat tanggung jawab moral yang patut dipertanyakan,” ujarnya kepada media.

Di sisi lain, kelompok anti-imigrasi Nemesis menyebut korban hadir untuk melindungi anggotanya dalam demonstrasi dan menuding organisasi pemuda antifasis Jeune Garde sebagai pihak yang terlibat. Tuduhan tersebut dibantah, sementara penyelidikan masih berjalan.

Sumber yang dekat dengan proses hukum menggambarkan bentrokan antara massa dari dua kubu ideologis berlangsung sengit. Rekaman yang disiarkan jaringan televisi TF1 memperlihatkan sejumlah orang memukuli korban yang telah terjatuh, sementara saksi mata melaporkan penggunaan benda keras dalam aksi kekerasan. “Saya melihat beberapa orang saling menyerang menggunakan batang besi di lokasi kejadian,” kata seorang saksi.

Sejumlah tokoh politik turut bereaksi. Pemimpin senior LFI, Jean-Luc Mélenchon, menolak anggapan bahwa partainya berkaitan dengan kematian korban. Pernyataan terkejut juga disampaikan anggota parlemen Raphaël Arnault, sementara ketua majelis nasional Yaël Braun-Pivet mengonfirmasi salah satu asistennya dilarang memasuki kompleks parlemen setelah namanya disebut dalam penyelidikan.

Dari kubu kanan, figur utama partai National Rally, Marine Le Pen, mengecam keras pelaku serangan dan menilai tindakan tersebut sebagai kekerasan barbar yang mencederai nilai demokrasi.

Insiden mematikan ini terjadi menjelang pemilihan kota pada Maret serta kontestasi presiden 2027, periode ketika persaingan politik diperkirakan semakin tajam. Kematian seorang aktivis muda kini tidak hanya dipandang sebagai perkara kriminal, tetapi juga berpotensi memperdalam polarisasi dalam lanskap politik Prancis. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com