Harga cabai hiyung di tingkat petani Tapin naik menjadi Rp58 ribu per kilogram, namun peningkatan biaya produksi dan ancaman kebakaran lahan masih menjadi tantangan bagi petani.
TAPIN – Nilai jual cabai rawit hiyung di tingkat petani Kabupaten Tapin (Tapin), Kalimantan Selatan (Kalsel), meningkat menjadi Rp58 ribu per kilogram atau naik sekitar 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga tersebut memberi peluang peningkatan pendapatan petani, meski di sisi lain biaya produksi dan risiko usaha juga ikut bertambah.
Ketua Kelompok Tani Cabai Rawit Hiyung Karya Baru, Junaidi, mengatakan harga cabai hiyung pada musim panen tahun ini mencapai Rp58 ribu per kilogram, lebih tinggi dibandingkan sekitar Rp45 ribu per kilogram pada tahun sebelumnya.
“Harga di tingkat petani sekarang Rp58 ribu per kilogram. Tahun lalu sekitar Rp45 ribu per kilogram,” kata Junaidi, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis (23/07/2026).
Ia menjelaskan, Kelompok Tani Karya Baru mengelola lahan cabai hiyung seluas 139 hektare. Hasil panen tidak hanya dipasarkan di Kalsel, tetapi juga dikirim ke Jawa Barat dan Denpasar, Bali.
Meski harga jual meningkat, Junaidi menyebut biaya produksi turut naik sekitar 15 persen akibat bertambahnya kebutuhan sarana produksi pertanian. Kondisi tersebut membuat keuntungan petani tidak meningkat secara signifikan.
“Selain itu, petani masih menghadapi kendala pembukaan lahan serta ancaman kebakaran lahan saat musim kemarau yang berpotensi menekan produktivitas,” kata Junaidi.
Menurutnya, dukungan pemerintah masih diperlukan, terutama dalam penyediaan pupuk, obat-obatan pertanian, sarana produksi, serta bantuan pembukaan lahan agar produksi cabai hiyung dapat terus meningkat.
Junaidi menambahkan, harga cabai hiyung di tingkat konsumen saat ini mencapai sekitar Rp85 ribu per kilogram. Perbedaan harga dari tingkat petani hingga konsumen mencerminkan adanya biaya distribusi dan rantai pemasaran sebelum komoditas tersebut sampai ke pasar. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan