Sepanjang triwulan pertama 2026, kebakaran menjadi bencana dominan di Paser dengan puluhan keluarga terdampak dan penanganan darurat terus dilakukan.
PASER – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Paser mencatat sebanyak 10 kejadian kebakaran terjadi di tujuh dari 10 kecamatan selama triwulan pertama 2026. Peristiwa tersebut berdampak pada 83 Kepala Keluarga (KK) atau 263 jiwa, dengan mayoritas kejadian didominasi kebakaran non-alam.
Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Bencana Dinsos Paser, Ema Hermani, mengatakan data tersebut menunjukkan tingginya intensitas kebakaran dibandingkan jenis bencana lainnya di wilayah Paser pada awal tahun ini.
“Kabupaten Paser yang dikenal sebagai wilayah rawan bencana, untuk tahun 2026 ini kebanyakan bencana kebakaran, bukan bencana alam. Di triwulan pertama tercatat sudah ada 10 kejadian kebakaran. Akibat kejadian tersebut sebanyak 83 Kepala Keluarga (KK) atau 263 jiwa menjadi korban terdampak”, ujarnya saat ditemui di ruangannya, Rabu (01/04/2026).

Sebagai bagian dari penanganan darurat, Dinsos Paser telah menyalurkan bantuan sesuai kewenangannya, meliputi pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, sandang, layanan bagi kelompok rentan, dukungan psikososial, serta penyediaan tempat penampungan sementara bagi korban terdampak.
Bantuan makanan diberikan satu kali pascabencana, namun dalam kondisi tertentu dapat diperluas melalui pendirian dapur umum yang beroperasi selama tiga hingga tujuh hari. Dalam operasionalnya, Dinsos Paser menyediakan sarana, prasarana, tenaga, serta material pendukung, sementara kebutuhan tambahan seperti sayuran dipenuhi melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, relawan, dan pihak lainnya.
Selain itu, kebutuhan lain di lokasi pengungsian, seperti perlengkapan mandi, disalurkan berdasarkan data yang dihimpun dari masing-masing desa. Jenis bantuan juga disesuaikan dengan kondisi korban terdampak, termasuk kebutuhan khusus bagi lansia maupun anak usia sekolah yang memerlukan perlengkapan seperti sepatu, seragam, dan buku.
“Di setiap kejadian kita selalu merespon cepat. Karena kita ada grup kepala desa yang sudah kami berikan format data isian. Nah dari format itulah, akan menentukan jenis bantuan apa yg dibutuhkan dan akan kami salurkan”, tambahnya.
Dalam aspek pemulihan, Dinsos Paser juga memberikan perhatian pada kondisi psikologis korban. Meski belum memiliki tenaga ahli psikologi, dukungan psikososial diberikan melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
“untuk tenaga ahli psikologi kami memang belum ada, namun, untuk bantuan psikososial kita ada tim Tagana kolaborasi dari kabupaten Paser dan bantuan dari provinsi yang akan memberikan penguatan mental”,
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan seperti permainan bagi anak-anak terdampak trauma serta pendekatan komunikasi personal untuk memperkuat kondisi mental orang dewasa.
Selain kebakaran, wilayah Paser juga berpotensi menghadapi bencana lain seperti puting beliung, banjir, dan tanah longsor, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada permukiman warga. Dinsos Paser menegaskan akan terus meningkatkan respons cepat serta kolaborasi lintas pihak dalam penanganan bencana di daerah tersebut. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan